Sunday, 27 January 2013

Sebuah Puisi



Sumber gambar : http://teddyafrizal.blogspot.com/2012_05_01_archive.html


BERPISAH ATAU TERPISAH?

Hai, kamu yang terindah!
Masihkah bergelut pada petikan senar gitarmu?
Masihkah bernyanyi  seperti dulu?
Atau masihkah kamu bermimpi tentang kita?

Hai, kamu yang tak terlupakan!
Masih kuingat suara petikan senar gitarmu
Masih kuingat suara merdumu
Aku masih bermimpi tentang kita

Bersama hujan kita dendangkan kidung cinta
Hingga air di langit sudah mongering
Pelangi menyembul menarik garis warna
Meresapi terpaan bayu membelai  mendayu

“Aku suka hujan!” bisikmu padaku
“Aku suka pelangi!” bisikku padamu
“Dan Matahari laksana cinta yang menyatukan…,”
“Menyatukan dua sukma  di dalam raga yang terpisah.”

Hujan masih basah, pelangi masih berwarna
Dan Matahari pun masih memancarkan sinar
Namun, apakah kamu masih tetap sama?
Sama  seperti  empat tahun yang lalu?

Ingin kudengar lagi permainan nada-nadamu
Ingin kunikmati lagi merdunya suara nan menenangkan
Ingin kurasakan napasmu dan memandangi matamu
Ingin kuhadirkan kembali kenangan itu di dalam hujan

Tapi nyatanya, kamu tak pernah kembali untukku
Kini aku membenci hujan yang kamu sukai
Setiap tetesannya yang membasahi bumi
Membuat sesak di hati, menahan rindu yang berjela

Kamu ke mana? Kamu di mana?
Sampai pada saat ini tak lagi kutemukan dirimu
Kita berpisah atau terpisah, aku tak pernah tahu
Menunggu pun sudah begitu menyakitkan untukku

Palembang, 26 Januari 2013

Friday, 25 January 2013

SURAT UNTUK IBU





SELARIK KATA BERKIDUNG KASIH

Ibuku tercinta….
Dalam naungan kasih dan sayangmu, aku menatap dunia. Tiada nada indah yang mampu kuberikan untuk menggantikan kidung cinta yang kaulantunkan untukku. Meski dirimu tak tahu setiap helaan napasku akankah melahirkan kebanggaan untukmu, dengan segenap hidupmu selalu kauberikan yang terbaik untuk diriku. Kasihmu tak sebening embun pagi. Sayangmu tak seindah permata yang berkilauan. Cintamu tak seluas Samudera Pasifik yang membentang,   Ibu, karena kasih, sayang dan cintamu melebihi semuanya itu. Kau laksana matahari yang memberikan sinar bahagia untukku. Aku adalah benda langit yang mengelilingimu. Aku tak ingin menjadi Sedna yang jauh darimu. Aku ingin menjadi Merkurius yang paling dekat dengamu dan setiap saat dapat merasakan kehangatanmu.

Ibuku tersayang….
Dalam dekapan hangatmu, selalu kauceritakan bagaimana aku harus menghadapi hidup yang terkadang ramah namun tak jarang jua dapat menimbulkan kenistaan. Dengan wajah lugu tak mengerti, selalu aku bertanya berulang-ulang padamu. Lewat senyum indah penuh kesabaran, perlahan kau tuntun setiap jengkal langkahku yang tertatih menuju titik cerah yang membuatku mulai paham akan tutur nasihatmu. Pernah suatu ketika, tanpa sengaja diriku melihat bulir bening membasahi kedua pipimu kala malam nan sepi saat semua telah bermimpi. Kau memelukku, menenangkanku, lalu berkata bahwa semua baik-baik saja, tidak ada apa-apa denganmu. Aku sungguh tak tahu jikalau kala itu kau tengah menahan pedih karena sakit yang sedang menghampirimu. Begitu pandainya kau menyembunyikan penderitaanmu, ibu. Hingga aku tak pernah tahu jika dirimu sedang menahan bebanmu sendirian. Sedangkan ketika anakmu ini dilanda sakit, siang malam kauterjaga melindungiku dan tak pernah lepas memanjatkan doa demi kesembuhanku. Ibu, izinkan aku dan beri kesempatan untukku agar dapat menyayangimu sebagaimana kausayang padaku.

Ibuku terkasih….
Surat ini, selarik kata berkidung kasih, hanya kupersembahkan untukmu. Seseorang yang selalu berada di relung hati terdalam, seseorang yang memiliki tempat terindah di hati. Kaulah ibuku, orang yang paling kucintai, kusayangi dan kukasihi sepanjang masa. Pengorbanan yang kauberi untukku, tak akan kusia-siakan. Yakin dan percayalah, ibu. Janjiku padamu akan membuat ribuan bongkah bernamakan bahagia. Suatu saat akan kuberikan padamu, buah hasil kerja kerasmu mendidikku beserta pita-pita cinta lengkap dengan helai-helai prestasi yang dapat membuatmu bangga memiliki anak sepertiku. Semoga kita dapat saling mencintai, menyayangi dan mengasihi selamanya. Semoga Allah akan mempertemukan kita kembali ketika raga kita akan terpisah di dunia. Aku mencintai, menyayangi dan mengasihi ibu selama-lamanya. Terima kasih, ibu.

{Peluk dan cium dari anakmu….}

Popular Posts