Posts

Showing posts from April, 2014

CERPEN : CINTA PUTIH KAYLA

Sebuah rasa yang terlahir dalam hatiku, sejak enam tahun yang lalu hingga kini masih tetap setia kujaga. Rasa yang kusebut cinta, rasa yang menumbuhkan bunga-bunga semangat dalam hidupku dan rasa yang mampu membuat diriku bertahan selama ini. Bukan waktu yang singkat untuk mendekam rasa ini di dalam hati. Aku pun tak tahu sampai di mana cinta ini sanggup berlabuh. Akankah sampai pada pelabuhan yang kutuju atau malah harus mengalah pada titik kelemahan hingga tak bisa melabuhkannya pada hati yang telah lama kudamba. Pagi ini masih seperti biasanya. Hanya aku sendirian yang sudah duduk manis di dalam ruangan A105, menunggu mata kuliah pertama di senin pagi yang cukup dingin. Kubuka lembaran buku tebal yang baru saja kukeluarkan dari tas, lalu membacanya perlahan untuk mengisi waktu. Setelah sepuluh menit berlalu, kulirik jam mungil berwarna kecoklatan di pergelangan tanganku. Tepat pukul delapan pagi, itu berarti aku harus menunggu setengah jam lagi, baru perkuliahan akan …

CERPEN: ELEGI EMBUN PAGI

Di dalam kelas yang sepi. “Yeta, dicoba aja dulu! Masa sih udah tujuh belas tahun belum punya pacar juga, malu tuh sama wajah cantik kamu! Hahaha…,” kata Mentari membujukku sambil bercanda. Ia tertawa saat melihat wajahku langsung cemberut. “Mentari, sahabatku tersayang… jika kamu masih aja nyuruh aku pacaran sama dia, gak akan kupinjami komik lagi loh!” kataku mengancam lalu memalingkan wajahku dari Mentari. Fenta dan Adinda yang baru saja dari kantin menghampiri kami sembari menyerahkan bungkusan burger pesananku dan Mentari. “Ada apa dengan kalian? Kok kayaknya lagi diam-diaman aja?” tanya Adinda heran sambil menatapku dan Mentari secara bergantian. “Yeta nih, masa Gilang yang udah jelas-jelas cakep dan kaya, masih aja ditolak. Heran deh! Cowok yang kayak gimana yang kamu mau, Ta?” Mentari berkata seolah ia sangat terheran dengan sikapku. “Gilang nembak kamu, Ta?” tanya Fenta ingin tahu. Aku hanya terdiam. “Benar Gilang udah nembak kamu? Lalu kamu tolak?” Kini Adinda yang …

CERPEN : SEBENTUK HATI

Jumat, 01 Februari 2013. Cinta… kehadiranmu bagai bintang di hatiku. Meski hanya sesaat dapat kumiliki, kekuatanmu mampu mengajarkanku arti sebuah pengorbanan yang tulus dan kepedihan yang tak selayaknya dibalas dengan kepedihan. Cinta… kaudatang bersama angin, dan berlalu pun bersama angin. Aku tak tahu harus marah atau kesal dengan sebuah angin yang telah membuatku harus berpisah denganmu. Mungkin perpisahan kita adalah hal terpedih yang pernah kurasakan. Namun aku tahu, perpisahan kita adalah hal yang membahagiakan untukmu. Satu demi satu kata kugoreskan ke dalam lembaran buku kecil berwarna hijau, saat itu pula tetes demi tetes airmata berjatuhan membasahi lembaran buku itu. Ya, hari ini kisah antara aku dan pacarku telah berakhir. Baru saja, sekitar satu jam yang lalu! Sambil menyeka lelehan air bening hangat yang keluar dari kedua pelupuk mata ini, kembali kuingat bagaimana aku dan dia bisa menjadi sepasang kekasih. Ketika itu, tepatnya sebulan yang lalu, saat acara…

MEKAR LAGI BUNGA ITU!

Mekar lagi bunga itu!

Padahal musim semi belum tiba.
Mungkinkah karena keterpaksaan?
Ah, sepertinya tidak!

Namun ini akan menimbulkan pandangan heran bagi yang memandang.

Haruskah mekarnya kupetik saja?
Biar tak ada yang tahu.

Atau biarlah?
Akan kutunggu saja sapuan hujan yang lebat atau tarian angin yang hebat untuk menghapusnya.
Atau bahkan kutunggu saja sinar teramat terik yang akan melayukan mekaran itu.

Tapi tunggu dulu!
Apa mungkin hal yang kupikirkan tadi bisa berhasil?

Bukankah mekarnya bunga itu karena alami, pun layunya harus alami.

Tapi sampai kapan?