Posts

Showing posts from January, 2015

CERPEN ANAK

Image
LAGU UNTUK MATAHARI



 “Ayolah, Fania! Coba dulu, lama-lama kamu akan terbiasa!” bujuk Anto padaku dengan setengah memaksa. Aku menggeleng kuat-kuat. “Aku tak mau! Itu tidak halal, Anto!” seruku lalu pergi meninggalkannya. “Ah, sok suci kamu. Anak jalanan seperti kita ini tidak usah lagi memikirkan halal atau haram!” jerit Anto keras dengan wajah kesal. Dengan hati miris, kulangkahkan kaki menyusuri jalanan beraspal di pinggiran Pasar Cinde. Aku menyesali sikap Anto, temanku itu. Ya, dia kini menambah penghasilannya yang biasa mengamen menjadi tukang copet. Entah dari siapa dia belajar, yang pasti aku tak akan mau menjadi pencopet seperti dirinya. Biarlah aku tetap seperti ini, mengamen di bus kota dan mobil-mobil yang berhenti di lampu merah. Walau hasilnya terkadang tak cukup, aku lebih bahagia karena uang yang kudapat merupakan uang halal. Aku tak akan menambah kehinaan diriku yang sudah menjadi anak jalanan dengan predikat sebagai tukang copet. Sesampainya di lampu merah simpang Rumah Sa…

CERPEN

HARAPAN ITU MASIH ADA
Ibu, Nayla ingin berjualan pempek di tempat lain saja. Supaya kita mendapatkan uang lebih banyak, kataku membujuk ibuku yang sedang menuangkan air ke dalam baskom berisi ikan yang telah digiling halus.             “Nayla di rumah saja! Masak, membereskan rumah, mencuci. Biarkan Ibu saja yang mencari uang.” Balasnya lembut sembari menatap wajahku. Ibu tersenyum dan mulai meratakan ikan dengan air lalu memasukkan sagu sedikit demi sedikit ke dalam baskom.             Aku tersenyum dan beranjak untuk mendidihkan air guna merebus pempek yang dibuat oleh mak. Nayla ingin menjual pempek di Unsri, Bu. Kata Laysa, di kampus Unsri belum banyak yang menjual pempek.” kataku lagi sembari kembali duduk di hadapan ibuku yang terlihat sibuk membentuk adonan pempek.             “Apa Nayla tidak malu dilihat teman-teman kalau Nayla berjualan pempek di Unsri?”tanya Ibu serius padaku.             Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Ibu pun ikut tersenyum. Wajahnya tampak letih dan su…

CERPEN ANAK

SERPIHAN ASA DI SUNGAI MUSI
            Hasan, anak laki-laki berusia sembilan tahun, sedang termenung di pinggiran Sungai Musi. Matanya menyapu seluruh permukaan air yang bergelombang karena baru saja dilewati perahu motor dan ketek. Matanya juga tak luput pada jembatan tinggi kokoh di atas Sungai Musi. Jembatan Ampera, penghubung daerah Sebrang Ulu dan Sebrang Ilir, seringkali membuat kagum Hasan karena kuatnya jembatan itu menahan beban dari ribuan kendaraan yang berlalu lalang di atasnya. Hasan baru menyadari jika hari mulai petang karena langit kebiruan sudah tergantikan langit jingga yang memancarkan kehangatan. Burung-burung beterbangan sehingga membentuk bayangan di atas permukaan air Sungai Musi yang sudah tenang kembali. Hasan berdiri lalu dihirupnya napas dalam-dalam.             “Aku tahu jika ini mustahil, namun apakah salah jika aku bermimpi yang tinggi?” kata Hasan pelan sambil menengadah ke atas seakan berbisik pada langit senja.             “Lihat saja, aku akan ke sana w…

CERPEN KEHILANGAN MESTIKA

KEHILANGAN MESTIKA
Kutarik napas cukup dalam dan perlahan kuembuskan. Dengan sendu, kutatap sebuah kotak berisi bekal makan siang yang tergeletak di atas meja. Sudah lima belas menit lamanya hanya kupandangi tanpa berniat untuk menikmatinya. Bukan rasanya tak enak bukan pula karena perutku masih kenyang. Sebenarnya saat ini, aku merasa sudah lapar dan ingin memakan bekal itu. Namun egoku lebih besar dan aku memutuskan untuk keluar, mencari makan siang di restoran terdekat.             “Selamat siang, Pak Rio. Bapak mau ke mana?” tanya Aji, salah satu karyawanku.             “Mau ke Rumah Makan Pagi Sore. Kalau kamu belum makan, mari bareng saya saja!” ajakku menawarkan.             “Bapak tidak dikirimi bekal makan siang hari ini?” tanya Aji dengan wajah penasaran.             Aku menatap Aji tajam. Ia tertunduk seolah menyesali pertanyaannya barusan. Segera kulangkahkan kaki dan Aji menyusul, berjalan di belakangku. “Sudah, biasa saja! Saya hanya bosan makan bekal. Sesekali ingin merasaka…