Monday, 5 June 2017

CURHATAN HP DAN AL QUR'AN

Semalam-entah jam berapa, aku terbangun oleh suara bisik-bisik di belakangku. Saat itu aku tidur menghadap sebelah kanan, seperti yang disunnahkan Rasulullah SAW.

“Apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari)

Sayup-sayup aku mendengar seperti suara dua orang yang sedang berbicara, namun dengan suara yang pelan sekali. Sebenarnya aku hendak segera membalikkan badan ke sebelah kiri, tapi hatiku mengatakan jangan.

Ah, ini suara apa? Aku berusaha mempertajam pendengaranku. Sembari berusaha meraba-raba ke sisi tempat tidurku untuk mencari HP, aku baru teringat kalau HP-ku sedang di-charge. Letaknya di atas meja, di sebelah kiriku. Tak mungkin aku membalikkan badan, jadi niat memainkan HP aku urungkan.

"Aku capek, An. Setiap saat aku dipaksa untuk beroperasi. Disentuh-sentuh, ditekan-tekan, hingga tenagaku habis. Giliran tenagaku habis, aku diomelin. Bahkan ketika ia marah, aku pernah dilempar hingga tubuhku berantakan. Aku gak pernah dibiarkan beristirahat, kecuali ia tertidur seperti saat ini. Rasanya nyawaku tidak lama lagi."

Teman yang dipanggilnya An, hanya diam mendengarkan. Wajahnya terlihat murung.

"Kenapa kamu yang terlihat bersedih, An?"

An menatap temannya sejenak lalu berkata, "Saudaraku pernah bercerita bahwa di masa-masa dulu, ia dan teman-temannya pernah merasakan begitu dekat dengan manusia, seperti kamu. Setiap saat dibawa manusia ke mana-mana, dipeluk, dijaga, dibaca, dipelajari, bahkan manusia-manusia dulu selalu menerapkan apa yang dikatakan saudaraku."

An menghela napas sebentar, lalu ia melanjutkan. "Kamu tau gak manusia saat ini sudah banyak sekali yang melupakanku dan saudaraku. Mereka lebih memilih dekat denganmu. Hanya kamu yang diingat. Hanya kamu yang ditanyakan. Hanya kamu yang dicari."

Al-Qur'an sudah tak mampu membendung airmatanya. Sementara HP memandangnya bingung.

"Setiap malam, sehabis maghrib atau isya aku selalu menunggu di atas meja ini. Aku maklum dari pagi sampai sore mungkin ia tak sempat bersamaku, aku hanya berharap di malam hari ia memiliki waktu bersamaku. Aku juga berharap akan dibawa kepangkuannya, dibacanya meski hanya beberapa menit. Tapi apa, sehabis shalat ia hanya mencari kamu, HP. Sambil tidur-tiduran, ia memegangmu, menyentuhmu, dengan wajah sumringah. Aku iri melihat keakraban kalian. Aku sedih karena sudah terlupakan. Padahal di akhirat nanti, aku bisa menjadi penolongnya, menjadi pembelanya. Apakah ia masih belum menyadarinya?"

"Maafkan aku, An. Aku telah merusak hubunganmu dengan dia. Akan tetapi aku juga tak menginginkan itu. Aku juga sedih melihat keadaan dunia seperti saat ini. Kebanyakan manusia telah salah memilih jalan. Perkembangan zaman telah membutakan sebagian besar kehidupan. Aku kadang berpikir, seandainya aku tidak pernah ada, mungkin keadaan menjadi lebih baik. Kecanggihanku malah berdampak buruk bagi sebagian manusia yang kurang keimanannya. Aku sangat menyesali itu."

Al-Qur'an dan HP saling berpelukan di dalam tangis mereka.

Diam-diam aku yang telah jelas mendengar percakapan mereka, turut berurai airmata. Kuberanikan diri membalikkan badan, namun aku tidak melihat Al Qur'an dan HP sedang bercakap-cakap. Mereka hanya tergeletak diam.

Kudekati mereka, kuusap Al Qur'an-ku dengan rasa penyesalan. Ya Allah, Al Qur'an-ku terasa seperti basah. Apakah ini airmata kesedihannya?

Dan kupegang HP-ku juga, ia terasa begitu panas namun seperti ada uap embun di layarnya. Apa mereka berdua benar-benar menangis?

Palembang, 05 Juni 2017

__________________________________________________

Cerita di atas adalah fiktif belaka. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. 😊😊😊

#FLPPalembang
#MenulisUntukMencerahkan
#30HariFLPMenulis
#Flpoke

AKU (TAK) INGIN MENULIS, TAPI....


Aku ingin menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiranku, yang ada dalam jiwaku, yang ada dalam perasaanku. Ah, tapi aku takut jadi terkenal. Takut diundang oleh presiden. Takut diajak ke sana ke sini. Takut menangis karena "dituduh" plagiat. Takut diajak foto oleh para pejabat. Takut diwawancara wartawan. Takut masuk koran. Takut masuk televisi. Takut "dibela" para fans.

Aku ingin menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiranku, yang ada dalam jiwaku, yang ada dalam perasaanku. Ah, tapi aku belum siap menjadi terkenal. Belum siap ketemu presiden yang telah membawa banyak "perubahan". Belum siap diundang ke sana ke sini. Belum siap "dituduh" seorang plagiat. Belum siap diajak foto oleh para pejabat. Belum siap diwawancara. Belum siap masuk koran. Belum siap masuk televisi. Belum siap "dibela" para fans.

Aku ingin menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiranku, yang ada dalam jiwaku, yang ada dalam perasaanku. Ah, tapi aku ingin menulis yang tidak menambah kemelut bangsa. Tulisan yang mencerahkan, dan mengajak pada kebaikan. Bukan sebuah tulisan yang memancing permusuhan atau hanya karena sebuah ketenaran.

Maafkan aku yang hingga saat ini belum sama sekali melakukan sebuah pergerakan untuk bangsa ini. Meski itu hanya lewat sebuah tulisan. Mungkin karena sebuah ketertakutan dan kebelumsiapanku, aku hanya mampu menjadi penonton, pembaca, pengamat. Hanya saja, aku berpegang teguh pada agamaku dan aku mengimani keyakinanku. Berbekal itu, aku selalu berdoa, meminta petunjuk dan cahaya kebenaran pada Tuhanku-Allah SWT. Semua itu tak akan lari dari hatiku.

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.' " (Q.S. Yunus: 57-58)

Palembang, 04 Juni 2017



#FLPPalembang
#Flpoke
#MenulisUntukMencerahkan
#30HariFLPMenulis



Popular Posts