Review Film 212; Kekuatan Cinta Mengubah Segalanya

www.21cineplex.com


Apa yang kalian ingat dengan aksi 212 tahun 2016 lalu? Ya, aksi yang dibanjiri oleh lautan manusia di halaman Monumen Nasional hingga meluas ke segala arah di sekitarnya. Aksi yang juga dikenal dengan aksi damai ini dilaksanakan tepat pada tanggal 2 Desember 2016 sehingga dinamakan sebagai Aksi 212. Tujuannya tak lain adalah untuk melakukan tuntutan terhadap salah satu pejabat ibukota atas dugaan penistaan agama. Dalam aksi tersebut jutaan umat islam berkumpul untuk melakukan shalat Jumat dan doa bersama.

Peristiwa penting yang turut menyedot perhatian dunia ini telah diproduksi menjadi sebuah film religi oleh Warna Pictures. Mulai tayang di bioskop Indonesia sejak tanggal 9 Mei 2018 kemarin. Film yang berjudul 212 The Power of Love ini disutradarai langsung oleh Jastin Arimba dan dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris berbakat, di antaranya Fauzi Baadila, Adhin Abdul Hakim, Humaidi Abas, Roni Dozer, Hamas Syahid, Meyda Sefira, Asma Nadia, Echi Yiexcel, dan sebagainya.

Sebelumnya Film 212 The Power of Love ini diduga sengaja dibuat untuk kepentingan golongan tertentu dan sarat akan politik. Tak hanya itu, film berdurasi 110 menit ini juga dikhawatirkan tidak laku di pasaran. Akan tetapi setelah tayang perdana kemarin, dugaan dan kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Film yang menyajikan konflik keluarga ini ternyata mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk para penonton usai menuntaskan kisah demi kisah yang diceritakan. Apa saja itu? Mari kita simak bersama ulasan yang telah saya tuliskan.

Ringkasan Cerita:

Film 212 The Power of Love mengisahkan tentang Rahmat (Fauzi Baadila), seorang jurnalis idealis di Majalah Republik. Sikapnya yang dingin dan sinis membuat pemuda lulusan Universitas Harvard itu kurang disukai banyak orang. Rahmat memiliki satu teman setia yang memiliki rambut gondrong persis seorang rocker bernama Adhin (Adhin Abdul Hakim). Adhin adalah fotografer di tempat kerja mereka. Awalnya Adhin menduga jika temannya itu sebatang kara, tidak memiliki keluarga. Sampai suatu hari, Rahmat mendapat telepon dari seorang gadis teman masa kecilnya, Yasna (Meyda Sefira). Yasna mengabarkan bahwa ibu Rahmat telah meninggal dunia. Bersama Adhin, Rahmat berangkat dari Jakarta menuju Ciamis.

Sudah sepuluh tahun lamanya Rahmat tidak pernah pulang ke Ciamis. Hal ini dikarenakan ada masalah masa lalu yang telah mengubah Rahmat hingga ia pun seolah bermusuhan dengan abahnya, Ki Zainal (Humaidi Abas). Adhin sempat tidak percaya jika Ki Zainal adalah ayah Rahmat. Sebab pikirnya tidak mungkin seorang kyai memiliki anak seperti Rahmat yang walau beragama islam tapi apatis terhadap agamanya sendiri.

Di Ciamis, Rahmat bertemu kembali dengan Yasna yang diam-diam telah dikaguminya. Tak hanya Yasna, Rahmat juga bertemu dengan Bi Nurul (Asma Nadia) dan adik Yasna, Abrar (Hamas Syahid). Abrar yang memiliki watak cukup keras, tidak menyukai kehadiran Rahmat. Abrar sudah mengetahui tulisan Rahmat yang telah menjatuhkan islam. Mereka berdua beberapa terlibat dalam pertengkaran.

Seusai pemakaman, Rahmat berencana akan pulang ke Jakarta. Akan tetapi tanpa sengaja Rahmat mendengar berita bahwa Ki Zainal akan melakukan long march bersama para santri dan masyarakat Ciamis untuk mengikuti aksi pada tanggal 2 Desember 2016 di Jakarta yang dikenal dengan Aksi Bela Islam 212. Adhin memberi nasihat agar Rahmat jangan dulu pulang, sebab Ki Zainal sudah tua dan sakit-sakitan. Apalagi jika Ki Zainal sampai benar-benar jadi mengikuti long march tersebut. Berkali-kali Rahmat meminta Ki Zainal agar mengurungkan niatnya untuk mengikuti kegiatan Aksi 212 dan mengajaknya untuk tinggal bersama di Jakarta. Akan tetapi tekad Ki Zainal untuk mengikuti aksi perdamaian itu tidak dapat diganggu gugat.

Dengan terpaksa, Rahmat pun ikut dalam long march demi menjaga ayah yang sebenarnya sangat disayanginya. Dalam perjalanan itulah, Rahmat tidak menyerah untuk meminta sang ayah agar membatalkan perjalanannya. Rahmat beranggapan bahwa aksi ini sengaja dimanfaatkan oknum untuk berpolitik. Ki Zainal pun tidak mau menyerah untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Akhirnya sampailah mereka di Jakarta dan ikut melaksanakan aksi 212 di Monumen Nasional. Di aksi ini Ki Zainal sempat menghilang, Rahmat dan Abrar hampir melakukan perkelahian jika Yasna tidak melerai mereka, dan Rahmat juga sempat dikeroyok oleh beberapa peserta aksi yang mengetahui bahwa rahmat adalah jurnalis yang telah menjatuhkan islam.

Sampai pada menit-menit berakhirnya film, Rahmat terlihat ikut shalat Jumat berjamaah di kegiatan Aksi 212. Padahal Rahmat sudah lama sekali tidak melaksanakan kewajiban shalatnya itu. Apakah Rahmat sudah tersadarkan? Lalu bagaimana reaksi Rahmat ketika pada rakaat terakhir saat akan menjelang salam, Ki Zainal tiba-tiba tak sadarkan diri? Kalian bisa saksikan sendiri akhir cerita di film ini ya. Jangan lupa siapkan tissue. Sebab bisa jadi kalian akan menangis dan tissue tersebut akan sangat berguna.

Kelebihan dan Kekurangan Film:

Sesuai judul, Film 212 The Power of Love memberikan pesan kepada kita tentang kekuatan cinta dan kasih sayang. Meski terdapat kata 212 pada judul, film ini bukan mengisahkan tentang peristiwa aksi 212 sepenuhnya seperti bayangan saya sebelumnya, melainkan mengisahkan tentang hubungan keluarga ayah dan anak. Fauzi Baadila sangat cocok memerankan Rahmat, ekspresi wajah dan sikapnya tidak terlihat kaku. Secara garis besar, akting para pemain sudah cukup enak untuk dinikmati. Apalagi dengan hadirnya tokoh Adhin yang cukup menyegarkan dengan tingkah lucunya. Hanya saja sedikit dialog di awal film yang terdengar kaku dari Rara (Echi Yiexcel) saat rahmat, rekan kerjanya, dan pimpinan redaksi Majalah Republik sedang berdiskusi.

Dari segi pengambilan gambar, saya suka karena terlihat rapi dan feel-nya pas jika para tokoh memang sedang ada dalam aksi pada tanggal 2 Desember 2016 tersebut. Hanya cukup disayangkan ada beberapa bagian yang terlihat kasar saat menyatukan scene dengan potongan greenscreen. Mungkin untuk mendapatkan hasil yang benar-benar sesuai membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Jadi wajar-wajar saja.

Menurut saya pribadi, film ini sudah cukup layak menjadi film religi yang dapat menjadi pilihan untuk ditonton bersama keluarga. Saya terharu dan sempat ingin menitikkan air mata menonton film yang ceritanya ditulis oleh Helvy Tiana Rosa dan Benny Arnas ini. Bagaimana tidak, kita menyaksikan seorang anak yang menganggap dirinya dibuang oleh keluarga sendiri, mendengar penuturan dari seorang ayah yang mengungkapkan perasaan bahwa ia teramat mencintai anaknya, hingga menyaksikan jutaan umat yang siap jiwa dan raga demi membela islam dan Al Qu’ran. Semua kejadian itu cukup dilatarbelakangi oleh satu kata, yaitu cinta. Ya, cinta. Kekuatan dari kata penuh makna itu memang mampu mengubah segalanya. Termasuk mengubah kekerasan hati menjadi selembut sutra.



#Review212
#PutihkanBioskop
#212Movie 
#BukuRepublika
#10Mei2018
#Hari2Tayang

Komentar

  1. Yaah kiroi bercerita tentang peristiwa 212, jadi urung nak nontonnyo 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diceritoke dikit ttg aksi 212 itu. Fokus ke cerita Rahmat dan ayahnyo. Tapi tetep bagus jugo. 😁

      Hapus
  2. aku suka sama film ini, terutama ada beberapa sentilan untuk para jurnalis dan penulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Film ini insyaa Allah bisa mencerahkan :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOMBA MENULIS PUISI “JIKA INI ULANG TAHUN TERAKHIRKU”