Cerpen Horor: Korban Keempat Hantu Banyu



“Mayat! Tolong, ada mayat!”

Hampir saja kujatuhkan sebuah piring yang sedang kubilas saat mendengar teriakan kencang dari Pak Budi, tetanggaku. Dengan cepat kubilas beberapa piring dan sendok yang tersisa, kemudian dengan tergesa kulangkahkan kaki ke rumah Pak Budi.

Aku memandang ngeri ke arah mayat lelaki bernama Ujang tersebut sembari menutup hidungku. Ah, baunya begitu menyengat dan rasanya aku ingin muntah melihat kondisi mayat dengan kepala bagian belakang telah berlubang.

“Kita tunggu keluarga Ujang datang, kemudian baru bisa diputuskan untuk dibawa ke rumah sakit atau langsung dimandikan dan dimakamkan,” ujar ayahku yang ternyata sudah berada di sini.

Sebagian orang di sana kulihat menganggukkan kepala. Sebagian lagi-apalagi para ibu, hanya mampu memandangi sang mayat dengan ketakutan.

“Untung saja anak-anak kita sudah di sekolah. Kalau tidak, mereka pasti ketakutan melihat mayat seperti ini,” kata salah satu wanita kepada seorang ibu di sampingnya.

Akhirnya seusai Zuhur, Ujang pun dimakamkan. Ibunya menangis meraung-raung melihat jasad putranya yang dikebumikan.

Kematian tak wajar Ujang yang ditemukan mengapung di Sungai Musi pagi tadi sungguh menghebohkan kampungku. Ujang, lelaki berumur dua puluhan itu memang sering memancing ikan sepulang ia bekerja menjadi kuli panggul di Pasar 16. Aku pernah beberapa kali bertemu Ujang yang terlihat memancing di area pinggiran sungai dekat rumahku.

Ujang memang telah dikabarkan menghilang sejak dua hari yang lalu. Namun tak ada yang menyangka Ujang akan menjadi salah satu korban keganasan Hantu Banyu ini. Hantu Banyu atau 
Hantu Air merupakan sosok makhluk gaib yang banyak dikenal oleh masyarakat Sumatra Selatan sebagai sosok hantu ganas dan menyeramkan. Setiap tahun, sosok hantu berambut panjang ini akan meminta korban.

“Itulah kenapa dari dulu Ibu melarangmu dan adikmu berlama-lama berenang atau memancing di sungai, Mel. Hantu Banyu tidak akan melepaskan korbannya hingga ia berhasil mengisap otak dan isi kepala korban. Rambutnya yang panjang, hitam, dan tajam akan mengikat korban sampai terjatuh dan tenggelam di sungai. Ah, membayangkannya saja Ibu sudah ketakutan,”

“Iya, Bu. Amel mengerti. Ibu tak usah khawatir.” kataku menenangkan ibu yang terlihat cemas.

“Kamu jaga baik-baik adikmu. Riko sering diajak temannya berenang cukup jauh ke tengah sungai. Awasi adikmu itu!” pesan ibu dengan mimik wajah sangat serius.

“Ini sudah bulan November, itu artinya sudah mulai memasuki akhir tahun. Dan Hantu Banyu mulai mencari korban. Sepertinya tahun ini makhluk itu akan mengambil korban dari kampung kita,” lanjut ibu serius, membuatku bergidik ngeri.

***

Tiga hari setelah kematian Ujang, kampungku kembali kehilangan seorang wanita bernama Asih. Ibu dengan dua anak itu menghilang di sore hari menjelang Magrib. Saat itu anaknya yang kedua meminta dimasakkan mi goreng. Bu Asih pun ke warung, tapi hingga menjelang tengah malam Bu Asih belum juga kembali. Suami dan beberapa warga berusaha mencarinya, termasuk mencari ke Sungai Musi menggunakan perahu. Namun Bu Asih belum berhasil ditemukan.

Keesokan paginya, salah satu warga dikejutkan oleh seorang mayat. Mayat wanita yang tak lain adalah Bu Asih ditemukan di pinggiran sungai dalam keadaan duduk menunduk dan kakinya melipat ke depan dengan posisi tangan memeluk kaki. Sama halnya dengan mayat Ujang, kepala bagian belakang Bu Asih pun berlubang. Suami dan kedua anaknya memeluk orang yang amat mereka cintai dengan berurai air mata.

“Hantu Banyu jahanam, ayo keluar! Hadapi aku! Aku tidak takut denganmu. Apa salah kami terhadapmu? Berapa korban lagi yang kauinginkan? Keluar!” Suami Bu Asih berteriak di depan Sungai Musi dengan keras dan penuh emosi. Air matanya menetes perlahan di wajahnya yang memerah. Kakinya menendang-nendang angin dan jemarinya mengepal kuat sehingga urat-urat tangannya terlihat.

“Sudah, Pak. Ikhlaskan! Istri Bapak sudah tenang di sana.” ucap Pak RT memberi nasihat lalu menepuk pelan pundak suami Bu Asih.

Tak terasa mataku pun berair. Kisah pilu yang menimpa mereka memang menyakitkan. Di usiaku yang sudah menginjak 18 tahun ini saja aku tak ingin ditinggalkan oleh ibuku. Apalagi dua bocah yang masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu. Tuhan, apakah kami harus diam saja dengan kejadian seperti ini. Aku sungguh tak menyangka jika kampungku adalah target si Hantu Banyu tahun ini.

 “Kita tak bisa tinggal diam, Pak RT. Sebaiknya kita panggil orang pintar untuk mengusir Hantu 
 Banyu dari kampung ini. Kita semua cemas. Kita semua ketakutan.” usul seorang ibu dengan suara lantang.

“Iya, Pak RT. Kita tak tahu esok-esok siapa yang akan menjadi korban selanjutnya di kampung ini.  Kita harus bertindak cepat, sebelum ada korban lagi.”

“Kami setuju, Pak RT.”

Pak RT tersenyum dan mengatakan, “Akan saya pikirkan.”

Satu per satu warga kampungku mengeluarkan pendapat. Mereka memang ketakutan. Jujur, aku pun begitu. Akan tetapi Ayah dan Ibu selalu mengatakan padaku, setiap masalah yang ada janganlah gegabah, serahkan pada Allah dan berdoa. Jadi setiap selesai shalat, aku tak lupa untuk berdoa memohon keselamatan untuk keluargaku dan semua warga kampungku.

***

Korban ketiga kembali ditemukan mengapung tepat di pinggir Sungai Musi saat ayah mulai menyalakan perahu mesin di subuh hari. Sebagai pedagang ikan, memang sehabis shalat subuh Ayah akan menyeberangi sungai dengan perahunya untuk membeli ikan kepada para pemancing di daerah seberang sungai.

Ayah tidak berteriak saat menemukan mayat pria dengan lubang di kepala belakang tersebut. Ayahku memang bukan tipe orang yang bisa mengekpresikan perasaannya begitu saja. Dengan tenang, ayah memberi tahu ibu. Aku tidak sengaja mendengarnya dari balik pintu kamarku. Dengan refleks, kututup mulut dengan tangan saat mendengar ayah berkata bahwa dia telah menemukan mayat.

“Ada apa, Mbak?” tanya Riko yang bingung melihat ekpresiku.

“Tidak ada apa-apa. Riko sudah shalat subuh, ‘kan?” kataku mengalihkan pembicaraan.

Riko mengangguk. “Korban ketiga laki-laki, Kak. Korban keempat berarti perempuan.”

Aku tertegun mendengar pernyataan Riko. Keningku berkerut sambil menatap Riko yang terlihat serius. “Sudah, tak boleh berpikir ada korban keempat. Ayo kita baca Al Qur’an saja sekarang.”

Sore harinya, datang seorang paranormal ke kampungku. Aku yakin, ini pasti permintaan warga yang berharap paranormal itu mampu mengusir Hantu Banyu. Ayah dan ibu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat puluhan warga mengerumuni sang paranormal yang berdiri di pinggiran sungai. Dia terlihat mengucapkan kata-kata di atas segelas air. Kemudian air tersebut dipercikkan ke sungai.

“Pak RT, bukankah perbuatan seperti ini tergolong musyrik?” kata ayahku dengan lembut. Ayah tak ingin menyinggung ketua RT yang dihormati.

“Ini permintaan warga, Pak Ahmad. Saya hanya mengusahakan hal yang dapat membuat warga merasa nyaman dan tenang.” Pak RT menjawab dengan senyum khasnya.

“Tapi....”

Belum selesai ayahku melanjutkan kalimatnya, Pak RT telah mengayunkan langkah meninggalkannya.

***

Jam dinding kamarku telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun mataku enggan memejam. Kubuka jendela kamar yang menghadap Sungai Musi. Kusibak gorden biru agar pandanganku lebih leluasa. Dari kejauhan, Jembatan Ampera terlihat tegak berdiri kokoh dengan lampu warna-warni yang indah menghiasinya. Kuhirup udara malam dan kuresapi alunan suara angin yang seolah menyentuh permukaan air sungai.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok yang tengah duduk di atas perahu ayah. Aku ingin menjerit ketika melihat wajah menyeramkan makhluk itu. Dengan matanya yang hitam seolah tidak memiliki bola mata, ia menatapku dalam-dalam. Rambutnya yang legam dan teramat panjang terlihat kaku. 

Beberapa detik kemudian dia menyeburkan diri ke sungai dan menghilang. Aku segera menutup jendela dengan tangan gemetar, lalu sekuat mungkin kupejamkan mata hingga aku tertidur.

“Benar Amel telah melihat Hantu Banyu?” tanya ibu memastikan.

“Iya, Bu. Amel tidak bermimpi. Itu nyata. Wujudnya sama persis seperti yang pernah ibu ceritakan pada Amel.”

Ibu menarik napas. “Ya sudah, jangan sampai Amel lupa untuk selalu berdoa.”

“Iya, Bu.”

Aku keluar rumah untuk menjemur pakaian. Biasanya jam delapan pagi seperti ini, pinggiran sungai ramai oleh ibu-ibu yang mencuci pakaian sambil bercerita dan bercanda. Akan tetapi, sejak Ujang menjadi korban keganasan Hantu Banyu, aktivitas tersebut sudah ditinggalkan. Mereka memilih untuk mencuci di rumah masing-masing.

“Kampung kita sepertinya sudah aman ya sejak kedatangan paranormal sakti itu. Sudah hampir dua minggu sejak ditemukan mayat Pak Danu sebagai korban ketiga, tidak ada penemuan mayat korban Hantu Banyu lagi.”

“Iya, Bu. Sekarang saya sudah tidak terlalu cemas jika meninggalkan anak saya sendirian di rumah,”

Tanpa sengaja, aku mendengarkan percakapan dua wanita yang berjalan beriringan saat aku sedang menjemur pakaian. Mereka mengembangkan senyum untukku dan kubalas pula dengan senyuman. 

Aku kembali ke rumah dengan tergesa. Ah, aku melupakan sesuatu! Buku yang dipinjam dari perpustakaan sekolah Riko tentang Hantu Banyu.

“Korban Hantu Banyu bukanlah diambil secara acak, namun memiliki pola yang bisa dipikirkan jika kau ingin mengetahuinya.”

Kuambil kertas dan pena lalu mulai berpikir. Kucoret kertas tersebut berusaha merangkai pola. Bu Asih ditemukan meninggal tiga hari setelah Ujang. Pak Danu meninggal enam hari setelah Bu Asih. 

Besok tepat dua belas hari setelah meninggalnya Pak Danu. Jika benar pola jarak harinya dikali dua, berarti besok akan ditemukan korban lagi, korban keempat. Dan korbannya perempuan, seperti kata Riko yang pernah mengatakan jika korbannya mungkin berpola laki-laki, perempuan, laki-laki, dan selanjutnya perempuan.

Tubuhku langsung lemas. Keringat dingin membasahi dahiku. Kenapa aku harus membaca buku ini. Kenapa aku harus menemukan sebuah kalimat ini?

“Korban Hantu Banyu adalah manusia yang pernah melihat wajahnya secara langsung dan ia menatap manusia itu dengan tatapan yang teramat dalam.”

Jantungku berdetak kencang mengingat kejadian semalam. Tiba-tiba suara ibu memanggilku.

“Amel, tolong ambilkan ember!” teriak Ibu dari pinggir sungai.

Kuhampiri ibuku dan  kulihat ia menyeringai saat melihat kedatanganku. Aku terheran dengan ekspresi wajahnya.

"Ini embernya, Bu."

Saat kuulurkan ember ke ibu, baru aku teringat jika sebelumnya ibu ke pasar, bukan sedang berada di pinggir sungai seperti sekarang.

Aku ingin berteriak, tapi tangan dengan kuku-kuku tajam itu sudah melekat di pergelangan tanganku. Kemudian aku terpeleset dan tercebur ke dalam sungai. Aku telat menyadari semuanya. Bahkan aku pun tak sempat membaca kalimat paling akhir di buku tersebut.

“Hantu Banyu akan menjelma menjadi seseorang yang kaukenal. Lalu ia akan menyeretmu ke dalam sungai tanpa bisa kaulawan.”

-Selesai-


Sumber Gambar: www.wattpad.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOMBA MENULIS PUISI “JIKA INI ULANG TAHUN TERAKHIRKU”