Posts

Showing posts from September, 2019

Ayah dan Bunda, Ini Waktu yang Tepat untuk Buah Hati Anda Punya Gadget Sendiri

Image
Salah satu kemajuan teknologi yang paling dapat menonjol saat ini adalah berkembangnya teknologi infomasi yang diyakini  dapat memberikan manfaat yang besar untuk kehidupan. Apakah pernyataan ini benar? Bisa dikatakan benar, sebab perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan makin mudahnya pengaksesan internet oleh siapa saja memang dapat membantu pekerjaan manusia dan memudahkan komunikasi jarak jauh. Akan tetapi apakah kemajuan teknologi komunikasi seperti ini selalu memiliki dampak positif?

Melalui kelas literasi digital “Kapan Anak Boleh Punya Gadget Sendiri?” yang diselenggarakan atas kerja sama PT XL Axiata,  Sisternet, dan Bloggercrony, puluhan perempuan di Palembang berkumpul di Logo House untuk belajar bersama. Narasumber dalam kelas literasi digital ini adalah Bapak Ferdinand Oktavian (Head of Sales XL Axiata Greater Palembang), Astri Mertiana (Sisternet Partnership Management XL Axiata), dan Tsurayya Syarif Zain (Dosen Psikologi, Konselor, Praktisi Pendidikan &…

ANANTA - BAB 5

Image
~BAB 5~
Demi apa coba, pagi ini aku menyemprotkan parfum lebih dari tiga semprotan. Belum lagi sudah tiga warna lipstik yang kucoba, kemudian kuhapus, dan kucoba lagi. Jilbab, ya jilbabku. Apakah masih ada yang kusut? Kulirik jam tangan dan aku tersentak. Sekarang sudah pukul 7 pagi. Aduh, aku belum memesan ojek. Kaos kakiku di mana? Eh tadi aku sudah sarapan belum ya?
Aku tiba di kantor dan duduk manis di kursi saat jarum jam dinding menunjukkan pukul 7 lewat 25 menit. Kutarik napas cukup dalam, lalu berbisik kecil mengucap syukur karena aku datang tepat waktu.
“Seluruhnya diminta kumpul di ruang rapat!” teriak Pak Antoni dari luar pintu.
Deg!
Pemandangan di hadapanku hampir saja membuat jantungku lepas dari tempatnya. Aduh! Perasaan macam apa ini?
Aku pindah tempat duduk agar tidak menatap langsung ke arah Faiz yang kuakui kalau penampilannya saat ini beda dengan penampilannya dulu. Sekarang terlihat lebih rapi dan ehm ... menawan.
“Jadi seperti itulah tugas yang akan kita kerjakan …

ANANTA - BAB 4

Image
~BAB 4~

“Ra, minta penjepit kertas dong!”
Aku membuka laci dan mencari kotak kecil berisi kertas. Setelah menemukannya, kuulurkan ke Indri.
Tanpa sengaja aku menemukan lipatan selembar kertas di dalam laci. Aku tertegun melihat isi kertas itu. Ah, kenapa surat perintah tugas yang berisi namaku dan Faiz ini masih ada di sini! Faiz Dhiaurrahman, nama yang beberapa kali sempat kurapalkan dalam doa setelah shalat, kini wajahnya kembali terlintas dalam bayanganku.
“Tahukah kamu, sekeras apapun aku bertahan untuk tak memikirkanmu, nyatanya aku tak pernah berhasil.” Aku berkata lirih sembari memandangi nama Faiz. Ya, hanya surat perintah tugas ini yang menjadi satu-satunya kenangan. Kenangan yang seharusnya bisa menjadi manis, andaikan saja Faiz diberi waktu beberapa hari untuk menuntaskan tugasnya bersamaku. Eh, bukan. Maksudku bersama aku dan yang lain.
“Semuanya, ayo kumpul di ruang rapat!” teriak Anjani, sekretaris Pak Antoni.
Dan Tuhan memiliki skenario-Nya sendiri. Sebuah rasa bernama …

ANANTA - BAB 3

Image
~BAB 3~

Tepat di awal September, aku semringah membaca namaku berada di bawah nama Faiz. Hore! Akhirnya aku berada di tim yang sama dengan lelaki yang berhasil mengetuk hatiku hanya lewat suaranya yang melantunkan Al Fatihah. Seperti lagu milik Vina Panduwinata yang berjudul September Ceria, ternyata septemberku memang ceria. Terima kasih, Tuhan.
“Hei, Lo keliatan lagi bahagia banget. Kenapa sih?”
Indri menatapku heran. Aku hanya tertawa.
“Tuh kan, elo kenapa, Ra? Kesambet jin? Perasaan sobat gue satu ini termasuk wanita yang taat ibadah, gak mungkin dong bisa kerasukan,”
“Ngomong apa sih, In? Aku biasa aja kok. Gak kenapa-kenapa,” balasku sambil senyum-senyum.
Kutinggalkan Indri yang terheran melihatku. Indri mengejarku sembari memanggil namaku dengan kesal.
Sore harinya, tiba-tiba hatiku diselimuti mendung atas berita yang kudengar dari Edho. Setelah aku bertanya ke teman-teman lainnya, mereka semua mengiyakan pernyataan Edho. Ternyata septemberku urung menjadi September Ceria.
Faiz…

ANANTA - BAB 2

Image
~BAB 2~

“Ra, Pak Antoni minta lo ke ruangannya sekarang.” ujar Edho kepadaku.
Jemariku berhenti menekan tombol laptopku. “Eh kenapa ya?”
“Tadi gue dengar ada tugas baru. Siap-siap aja, bisa jadi lo terpilih masuk dalam tim.” “Oke. Makasih, Dho.”
Edho mengangguk dan membawa langkahnya keluar ruangan. Aku segera beranjak menuju ruangan atasanku.
 “Tugas kali ini hanya dikerjakan oleh dua tim yang sengaja saya pilih. Saya menganggap nama-nama ini adalah orang-orang terbaik yang saya harap dapat menyelesaikan tugas ini tepat waktu.”
“Siap, Pak.” Aku menanggapi kata-kata Pak Antoni dengan semangat.
Pak Antoni tersenyum lalu ia melanjutkan ucapannya, “Awalnya saya memasukkan namamu di Tim 1 yang diketuai Faiz. Tapi tadi Faiz meminta namamu diganti dengan Alisha. Kamu tidak ada masalah dengan Faiz?”
Kulihat wajah atasanku itu seperti tengah penasaran.
Aku menggeleng. “Tidak ada, Pak.”
“Baiklah. Tolong berikan surat tugas Tim 1 ke Faiz. Untuk surat tugas Tim 2, simpan saja dulu karena Rusdi h…

ANANTA - BAB 1

Image
~BAB 1~

Satu tahun yang lalu.
Namanya Faiz, tapi aku belum hafal nama lengkapnya karena baru dua hari kami bergabung di perusahaan ini dan belum saling berkenalan satu sama lain. Apalagi Faiz termasuk orang yang sedikit bicara. Jika diajak bicara duluan, barulah Faiz akan membalasnya.
Sampai suatu hari, aku mulai mencari tahu tentang Faiz. Ternyata nama lengkapnya adalah Faiz Dhiaurrahman. Tahukah kalian, aku sampai mencari arti namanya itu di google. Aku mulai memasang telinga, membuka mata, dan berusaha peka jika ada sesuatu yang berkaitan dengan Faiz. Semua itu karena kejadian malam ini.
Ada kegiatan buka puasa bersama di kantor. Usai menikmati menu buka puasa, aku bersama Indri menuju mushola untuk menunaikan shalat magrib. Ternyata mushola sudah penuh dan kami pun menunggu di kursi depan pintu mushola. Terdengar suara imam yang melantunkan Al Fatihah dengan merdu. Aku sempat tertegun hingga sang imam menyelesaikan surat pendek.
Aku berbisik pada Indri, “Siapa yang jadi imam ya?” …

ANANTA (PROLOG)

Image
~PROLOG~

Juni 2018.
Aku baru tahu tentang pedihnya sebuah harapan, tepat di usiaku yang ke 26 lebih beberapa jam. Di kota ini, di tempat ini, di mana aku seorang diri hanya mampu memerintahkan jemariku untuk bergantian menyapu air mata yang tak lagi terbendung.
“Tuhan, mengapa ini harus terjadi? Kumohon bunuhlah cinta ini, saat ini juga! Aku ... aku sudah menyerah.”
Aku ingin berteriak tapi yang keluar hanya suara lirihku di antara berisiknya suara hujan yang deras, sederas air mataku saat ini.
Kubiarkan hujan memandikanku. Tak kupedulikan tatapan heran beberapa mata yang mengarah padaku. Aku hanya peduli bagaimana caranya agar aku tidak kembali ke sana, ke sebuah kota yang menjadi tempat tinggal lelaki bernama Faiz.

Bab 1 

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5