ANANTA - BAB 3




~BAB 3~


Tepat di awal September, aku semringah membaca namaku berada di bawah nama Faiz. Hore! Akhirnya aku berada di tim yang sama dengan lelaki yang berhasil mengetuk hatiku hanya lewat suaranya yang melantunkan Al Fatihah. Seperti lagu milik Vina Panduwinata yang berjudul September Ceria, ternyata septemberku memang ceria. Terima kasih, Tuhan.

“Hei, Lo keliatan lagi bahagia banget. Kenapa sih?”

Indri menatapku heran. Aku hanya tertawa.

“Tuh kan, elo kenapa, Ra? Kesambet jin? Perasaan sobat gue satu ini termasuk wanita yang taat ibadah, gak mungkin dong bisa kerasukan,”

“Ngomong apa sih, In? Aku biasa aja kok. Gak kenapa-kenapa,” balasku sambil senyum-senyum.

Kutinggalkan Indri yang terheran melihatku. Indri mengejarku sembari memanggil namaku dengan kesal.

Sore harinya, tiba-tiba hatiku diselimuti mendung atas berita yang kudengar dari Edho. Setelah aku bertanya ke teman-teman lainnya, mereka semua mengiyakan pernyataan Edho. Ternyata septemberku urung menjadi September Ceria.

Faiz dipromosikan oleh Pak Antoni untuk pindah ke kantor pusat di luar kota Palembang. Faiz akan pindah tiga hari lagi. Harusnya Faiz pindah setelah menyelesaikan tugas saja, biar harapanku bisa terwujud untuk yang pertama kalinya sekaligus menjadi yang terakhir.

Tapi kenyataan memang tidak sesuai harapan. Faiz dikeluarkan dari tim dan digantikan Edho. Pak Antoni memintaku untuk menjadi ketua tim menggantikan Faiz. Ini tugas pertamaku menjadi ketua tim. Seharusnya aku bersemangat tapi aku tetap tak bisa memendam kekecewaan dan kesedihanku. Kekecewaan karena tidak jadi bekerja sama dengan Faiz dan sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan lelaki yang secara tak langsung telah menjadi penyemangatku.

***

Kukira melupakan akan menjadi sederhana jika sudah tak lagi berjumpa. Tapi nyatanya aku salah.

Sekarang sudah memasuki penghujung tahun. Kurang lebih sudah tiga bulan Faiz meninggalkan kantor ini. Hari-hariku terasa sepi. Sudah tak ada lagi seseorang yang kutunggu usai dia melaksanakan dhuhanya.

Meja di sebelah kananku sudah diisi oleh Indri. Aku senang sih ada Indri di dekatku seperti saat ini. Jika kami mulai jenuh bekerja,  kami berdua akan mengisinya dengan candaan dan cerita lucu. Apalagi jika teman lainnya sudah ikut bergabung, ruangan ini akan ramai dipenuhi suara tawa kami semua.

Tapi aku rindu suasana seperti saat Faiz masih di sini. Aku tak masalah Faiz tidak mengajakku berbicara. Aku tak masalah Faiz tidak mau satu tim denganku. Asalkan Faiz tetap ada di sini. Duduk di meja sebelah kananku. Aku cukup meliriknya sesaat, menikmati wajah seriusnya menatap layar laptop di hadapannya.

Faiz, lelaki yang tidak banyak bicara itu memang lelaki cerdas. Hanya dia pegawai baru yang telah dipercaya menjadi ketua tim. Kalau aku kemarin hanya menggantikan Faiz menjadi ketua tim karena Faiz pindah kantor, jadi bukan dari awal diminta untuk menjadi ketua tim. Selain cerdas, Faiz memiliki kepribadian yang tenang dan sopan, juga dilengkapi dengan fisik yang menarik lawan jenis. Jadi wajar saja dia disukai banyak orang.

Lalu aku? Aku wanita biasa. Apalagi aku termasuk seseorang yang bisa dikatakan agak sulit berteman dengan orang baru, karena sungkan untuk menegur orang lain duluan. Kalau berbicara denganku, kemungkinan lawan bicaramu akan bosan. Sebab aku akan membalasnya dengan jawaban pendek saja dan tidak berniat untuk balik bertanya atau sekadar merespon dengan kalimat yang agak panjang. Ah, aku memang payah.

Comments

  1. DAFTAR ID GRATIS SABUNG AYAM ONLINE


    * KUNJUNGI SITUS KAMI DI *

    WWW.ID303.website


    MENANG BERAPAPUN, PASTI KAMI BAYAR !!! *

    minimal deposit 25rb , minimal wd 50rb


    BISA DEPOSIT DENGAN PULSA XL DAN TELKOMSEL


    * Melayani LiveChat 7 x 24 Jam Nonstop :

    - WA : 08125522303

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MUSTIKA RATU-MINYAK ZAITUN OLIVE OIL