ANANTA - BAB 4




~BAB 4~


“Ra, minta penjepit kertas dong!”

Aku membuka laci dan mencari kotak kecil berisi kertas. Setelah menemukannya, kuulurkan ke Indri.

Tanpa sengaja aku menemukan lipatan selembar kertas di dalam laci. Aku tertegun melihat isi kertas itu. Ah, kenapa surat perintah tugas yang berisi namaku dan Faiz ini masih ada di sini! Faiz Dhiaurrahman, nama yang beberapa kali sempat kurapalkan dalam doa setelah shalat, kini wajahnya kembali terlintas dalam bayanganku.

“Tahukah kamu, sekeras apapun aku bertahan untuk tak memikirkanmu, nyatanya aku tak pernah berhasil.” Aku berkata lirih sembari memandangi nama Faiz. Ya, hanya surat perintah tugas ini yang menjadi satu-satunya kenangan. Kenangan yang seharusnya bisa menjadi manis, andaikan saja Faiz diberi waktu beberapa hari untuk menuntaskan tugasnya bersamaku. Eh, bukan. Maksudku bersama aku dan yang lain.

“Semuanya, ayo kumpul di ruang rapat!” teriak Anjani, sekretaris Pak Antoni.

Dan Tuhan memiliki skenario-Nya sendiri. Sebuah rasa bernama kecewa yang dulu kurasa dan aku berharap dapat menepiskan perasaanku sendiri, kini seolah menjadi terik sesaat yang kemudian menjelma tunai hujan yang menjadi penyejuknya.

Seusai mengikuti rapat, jantungku terus-terusan berdetak lebih cepat. Entah aku harus bahagia atau ini akan membuatku makin sulit menghilangkan Faiz dari sudut hatiku yang paling dalam. Ya, lagi-lagi Faiz. Karena Faiz akan kembali ke kantor ini untuk beberapa waktu. Jadi seharusnya aku berbahagia, 'kan?!

Keluar dari ruang rapat, aku mendengar bisik-bisik tetangga. Mereka membicarakan Faiz. Mereka terlihat gembira dan bersemangat mendapat kabar bahwa Faiz akan bertugas di sini.

“Kira-kira Faiz berubah tidak ya? Apakah masih pendiam seperti dulu?” tanya Mbak Dhea kepada Vanya yang duduk di sebelahku.

“Kurang tau, ah. Pastinya kalau dilihat di akun instagramnya itu, Faiz nampak makin gagah, Mbak.” 

“Bener banget, aku lihat foto-fotonya itu Faiz makin menawan.”

“Eits tunggu! Mbak suka sama Faiz?”

“Kalau iya kenapa? Ada yang salah?”

“Usia Mbak dan Faiz 'kan jauh!”

Aku berdiri lalu erjalan dengan cepat kembali ke ruangan. Aku malas mendengarkan percakapan-percakapan mereka tentang Faiz seperti ini.

Sebelum aku mendorong pintu, kudengar lagi percakapan yang membawa nama Faiz. Dua wanita cantik ini adalah pegawai bagian personalia lantai 1, kenapa masih nongkrong di sini sih?

“Aku jadi bersemangat kalau ada Faiz,”

“Lo suka sama dia? Eh, jangan dong! Gue 'kan udah suka duluan.”

Rasanya aku ingin berteriak stop pada wanita-wanita yang membicarakan Faiz. Tapi mana berani aku seperti itu. Kudorong pintu sekuat tenaga dan aku masuk dengan lega.

Kelegaanku ternyata tidak lama. Saat Indri kembali, dia mengajakku berbicara tentang Faiz.

“Udah tau belum gosip tentang Faiz, Ra?” tanya Indri padaku. Dia mendorong kursinya dan duduk mendekatiku.

“Faiz akan bertugas di sini selama dua mingguan?” jawabku balik bertanya.

“Kalau itu bukan gosip, Maira Sayang!” jawab Indri gemas.

“Lalu?”

“Kabar yang beredar mengatakan kalau Faiz lagi dekat dengan Alisha. Itu gosipnya,”
Aku mengerutkan kening. “Maksudnya lagi dekat?”

 “Kemarin Alisha pergi berdua dengan Faiz. Lo tau gak, Faiz udah sampai di Palembang kemarin sore. Dan Alisha yang jemput Faiz di bandara, terus mereka berdua jalan deh,”

Aku hanya bisa mengerutkan kening mendengar penjelasan Indri.

“Gak usah heran gitu, Ra! Siapa tau mereka jodoh.”

Rasanya aku ingin mengatakan pada Indri kalau Faiz bisa juga berjodoh denganku. Ah, ngomong apa aku ini!

Comments

Popular posts from this blog

LOMBA MENULIS PUISI “JIKA INI ULANG TAHUN TERAKHIRKU”