Peranan Zat Besi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan


Seringkah kalian merasakan sakit kepala, mudah marah, bagian bawah mata pucat, mudah lelah, kurang nafsu makan, atau malah suka makan aneh-aneh misalnya suka menggerogoti es batu? Jika iya, kemungkinan kalian sedang mengalami gejala anemia. Anemia merupakan kondisi saat terjadi kosongnya cadangan besi dalam tubuh yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang. Hemoglobin itu sendiri adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

medicinenet.com

Dengan kata lain, anemia disebabkan karena kekurangan asupan zat besi yang disebut dengan defisiensi besi. Apa yang terjadi jika tubuh menderita anemia? Saat anemia, tubuh akan kesulitan melakukan aktivitas akibat kelelahan. Selain itu, anemia juga dapat menimbulkan masalah pada jantung, seperti gangguan irama jantung (aritmia) dan gagal jantung, serta gangguan pada paru-paru.

Defisiensi besi adalah kekurangan gizi yang paling umum di seluruh dunia yang hampir mempengaruhi 3 miliar orang. Wanita dewasa, ibu hamil, anak-anak, dan manula memiliki risiko tinggi untuk terkena anemia. Bayangkan jika seorang ibu hamil mengalami kekurangan darah, bagaimana saat dia akan melahirkan? Tentu akan membahayakan nyawa sang ibu juga si bayi yang akan lahir.


Beruntungnya aku dan teman-teman Blogger Palembang diajak untuk mengikuti acara persembahan dari Maltofer Women Community yang membahas tentang pentingnya kecukupan zat besi di 1000 hari pertama kehidupan. Acara yang dihadiri para bunda dari Play Date Palembang ini, diadakan di Hotel Santika Radial pada tanggal 19 Oktober 2019 lalu. Bersama Dr. Yudianita Kesuma, Sp. A. (K), M.Kes, diharapkan seluruh peserta yang hadir dapat lebih memahami peranan penting zat besi bagi tubuh, terutama pada tubuh anak.

Awal Acara

Adik kecil ini berani diambil darahnya. 

Sebelum acara dimulai, seluruh peserta berkesempatan melakukan cek darah untuk mengetahui kadar hemoglobin. Pembawa acara juga melakukan wawancara kecil-kecilan dengan para bunda sembari menunggu acara dimulai. Salah satu kegiatan menarik lainnya, anak-anak juga diajak aktif dengan mengikuti lomba mewarnai.


Lomba Mewarnai

Pentingnya Kecukupan Zat Besi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan 


Dr. Yudianita Kesuma, Sp. A. (K), M.Kes menyatakan bahwa 1000 hari pertama kehidupan adalah masa sejak anak dalam kandungan dengan hingga berusia 2 tahun. 1000 hari pertama kehidupan ini disebut sebagai periode emas karena pada periode inilah terjadinya pertumbuhan otak yang sangat pesat, yang mendukung seluruh proses pertumbuhan anak dengan sempurna. Kurangnya gizi pada 1000 hari pertama kehidupan tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya. Untuk itu, maka seorang ibu lah yang paling bertanggung jawab atas kesehatan calon anaknya.

Defisiensi zat besi pada ibu mempengaruhi status zat besi dan perkembangan otak pada janin, serta memungkinkan terjadinya peningkatan risiko defisiensi besi dan perubahan perilaku bayi. Defisiensi zat besi pada bayi memberikan efek buruk pada kinerja kognitif jangka pendek dan jangka panjang, perilaku sosio-emosional, dan perkembangan motorik.

Mengatasi Defisiensi Zat Besi pada Bayi/Anak

Zat besi terkandung dalam beberapa jenis makanan, di antaranya daging sapi, daging ayam, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Oleh sebab itu, konsumsilah makanan penambah zat besi dengan cukup dan dengan cara yang benar. Dr. Yudianita Kesuma, Sp. A. (K), M.Kes berpesan kepada seluruh peserta, saat mengonsumsi daging jangan berbarengan minum teh. Sebab dapat menghilangkan nutrisi dari zat besinya.

Pada anak-anak dengan anemia mikrosotik ringan dan didiagnosis adanya anemia defisiensi besi, terapi besi oral dapat diberikan melalui tiga tahapan proses, yaitu:
  1. Dosis dan penjadwalan terapi besi yang tepat
  2. Modifikasi diet/asupan makanan
  3. Follow up penilaian responden

Cukupi Kebutuhan Zat Besi dengan Maltofer


Deloni Anggraini-Brand  Manager  Produk Maltofer PT Combiphar, menjelaskan bahwa Maltofer memiliki kandungan zat besi jenis iron (III) Polymaltose Complex yang dapat melepaskan kandungan zat besi  secara aktif dan terkontrol sesuai kebutuhan ke dalam tubuh, sehingga tidak terjadi penumpukan zat besi.

Maltofer merupakan tablet kunyah pertama dengan komposisi zat besi Fe3+ (Ferri) dengan rasa coklat dan dapat dikonsumsi dengan makanan/obat-obatan.

Produk Maltofer

Berikut tiga keunggulan dari Maltofer:

Efek Samping Minimal
Iron Polymaltose Complex diserap secara aktif dan terkontrol sehingga tidak menimbulkan kelebihan zat besi yang dapat menyebabkan mual, luka lambung, gangguan jantung, dan susah BAB.

Rasa Cokelat yang Enak
Maltofer memiliki rasa cokelat yang enak sehingga dapat dikonsumsi dengan lebih baik

Aman Dikonsumsi bersama Makanan dan Minuman
Iron Polymaltose Complex tidak bereaksi secara negatif dengan makanan, minuman, maupun obat-obatan lain dan tidak menimbulkan stress oksidatif

Ceritakan Kisahmu dan Bagikan Ceritamu


Pembicara terakhir adalah seorang blogger, Ika Puspita. Mbak Ika membagikan tips bagaimana menuliskan sebuah kisah dan cerita agar menarik. Sharing dari Mbak Ika inilah menjadi sesi terakhir acara luar biasa yang telah meningkatkan pengetahuanku tentang peranan zat besi bagi tubuh dan kehidupan.

Akhir Acara


Sebelum acara ditutup, pembawa acara mengumumkan dua pemenang lomba mewarnai, dua pemenang lomba foto di Instagram, dua pemenang doorprize, dan pemenang beruntung yang mendapatkan hadiah berupa smartphone yang dipilih dari pelanggan  setia Maltofer.

Foto Bersama 


Comments

Popular posts from this blog

MUSTIKA RATU-MINYAK ZAITUN OLIVE OIL