Puisiku


DI BALIK TANGISAN PALESTINA

Kumandang subuh basuh luka-luka panjang
Kini lukisan langit pagi kembali menjelang
Kuncup kusuma satu demi satu telah mengembang
Hapus sisa tangis semalam yang masih menggenang

Di tanah suci, barisan tragedi terjadi
Darah dan airmata menjadi sebuah saksi
Ribuan nyawa yang hilang membekas bukti
Betapa penderitaan menusuk-mengoyak sanubari

Palestinaku, di sudut mana lagi lahirkan kedamaian?
Semua tempat dirampas paksa penuh kebiadaban
Mortir beterbangan, peluru dilesatkan
Jerit tangis rakyatmu telah menjadi elegi perjuangan 

Lihatlah!
Puing bangunan menyatu bersama tubuh tak bernyawa
Menjadi seorang martir demi Al Quds tercinta
Melawan kekejaman zionis Israel sepenuh jiwa

Dengarlah!
Gema takbir dan tangisan wanita Palestina bertalu-talu
Dentuman bombardir, tembakan rudal menyerbu
Jeritan anak-anak tak berdosa sesakkan dada memilu

Berjuanglah!
Meski genosida mengikis sedikit demi sedikit nadi rakyat bertuah
Lalu memerahkan tanah Gaza dengan darah bersimbah
Hingga menghapus Palestina dari peta-hilangkan sejarah

Lalu di mana kita? 
Kita tidur enak,  makan enak, beribadah penuh ketenangan
Tak perlu menahan lapar, haus, kesakitan,  kehilangan
Tak perlu melihat genangan darah,  mendengar dentuman bom, atau nyawa yang 'terbunuhkan'

Lalu apa yang kita lakukan? 
Katamu; Ah, kita saja masih hidup dalam kesusahan
Kata kalian; Ah, negeri kita saja masih ada masalah yang belum terselesaikan
Kata mereka; Urusi saja negerimu sendiri yang pemerintahannya memprihatinkan

Ah,  Palestinaku...meski darah dan airmata terus-terusan tumpah mendera
Meski nyawa-nyawa kecil direbut paksa dari dekap sang ibunda
Kelaparan dan kehausan dijalani tiada gentar laksana jalinan aksara
Kesakitan dan kepedihan menjadi titik kekuatan menghalau aleksia

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Bibir kelu merapal takbir; lawan wisa zionis yang mengetuk pintu sanubari
Memantik api takwa-membakar semangat juang 'tuk merebut kembali tanah suci
"Bebaskan tanah kami! Kembalikan tanah kami! Baitul Maqdis milik kami!"

Palestinaku...tak akan menyerah pada durjana!
Lindungi Masjid Al Aqsa dari tangan kotor Yahudi sekuat tenaga
Selamatkan Baitul Maqdis dari konspirasi rezim zionis merajalela
Kembalikan nyawa dan darah yang tertumpah di sana

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Ketika tanah bersaksi atas pertumpahan darah menggenanginya
Ketika langit bercerita tentang genangan airmata
Sesungguhnya di balik tangisan Palestina telah tersimpan surga-surga

Ya Waliyy....
Lindungilah Palestinaku dari gulungan nestapa nan melemahkan
Kembalikan sakinah ke dalam ribaan Al Aqsa penuh kesafaan
Hingga serpihan luka telah diterbangkan angin, melebur ke tengah lautan

Ya Qawiyyu....
Kuatkanlah mereka hingga kelak Isrofil meniup sangkakalanya
Lalu Engkau kumpulkan semua makhluk di tanah suci Palestina
Dan tiada lagi penderitaan mewarnai keabadian bahagia


Palembang, 17 Juni 2017



TENTANG BINTANG (PEWARNA KELAM)


Bin, warna hitam duniamu belum luruh
Meski diterpa langkisau-melindap perapuh
Bulir dari kedua matamu laksana noktah keruh
Namun tatih langkahmu tak pernah terjatuh

Bin, setiap senyum yang kaugariskan
Ada luka bersemayam menjelajah harapan
Tatapan berbicara jenuh dalam keletihan
Hingga hujan di hati Ibu kian basah merawan

Kala itu, seragam putih merahmu kaupeluk erat
Bersama kokok ayam dan tetes embun kaugenggam semangat
Ransel biru di punggungmu bagai seorang sahabat
Dalam mengukir ilmu pada dinding jiwa kecilmu nan hebat

Ya...bagi Ibu kau anak hebat, Bintangku!
Ketika kau dipanggil Si Anak Buta oleh temanmu
Hanya sebuah senyum kauhadiahkan tanpa jemu
Walau sesungguhnya airmata menghentak di kalbu

Putri kecilku yang mewarnai kelam
Tak ada lagi senandung yang kaunyanyikan di kehadiran malam
Telah kau lepaskan hidupmu dari jeratan temali suram
Lalu kau ajari Ibu tentang tegar yang tak pernah padam


Palembang, 22 April 2017




WANITA BERAROMA MAWAR

(Dari Lelaki yang Tak Mampu Melupakanmu)

Kasih, kau dan aroma mawarmu menyatu
sekali pun aimatamu jatuh menghujani
derana terus memekar di balik kesakitanmu
kekuatanmu-karang yang berdiri kukuh di hati

Kasih, pada malam-malammu nan gelisah
saat kau dan aroma mawarmu berusaha terlelap
hujan yang kausangka menghapus resah
hanyalah  gerimis; melindapkan harap

“Waktuku tak banyak,” ucapmu sendu
lalu kau diam menghitung kelopak mawar. Sepi
“Aku belum siap kehilangan sekarang!” teriakku
namun matamu memejam, tak lagi mendengar. Sunyi

Laksana malam berhujan; dingin berkesah
tiada lagi kau dan aroma mawarmu yang dapat kudekap
selamanya. Kelopak mawar beterbangan lincah
tanpa keabadian-dikoyak waktu, lalu takdir pun mengecap

Palembang, 12 Februari 2017
 




UNTUKMU, (CINTA TERPENDAM)KU

Kamu; matamu adalah danau biru
amat dalam. Melengkung laksana cakrawala
mengalir tenang bersama sang bayu
usir sepi-membunuh debur sunyi di sudut jiwa.

Kamu; debar di relungku ada kamu
alangkah menguat rasa ini. Terpendam dalam dada
melukisi dinding hati, memahat dalam sendu
untuk sebuah nama yang kubisikkan pada dunia.

Kamu; cinta diam-diamku
aku telah membelah laut menjadi dua
mengertikah kamu, kenapa kulakukan itu?
untuk kita berjalan di tengahnya-berjumpa.

Kamu; cinta terpendamku
asaku tak terbunuh, mengaras cakrawala.
menjadi nomina untuk berjalan di sampingmu
usaikan yang tersembunyi, suatu saat nanti. Di sukma.

Inderalaya, 10 Februari 2017

 
 

RAHASIA SENJA


Kemarin kulihat senja ada di matamu
Tapi kini kaupejamkan matamu erat
Kaukunci senja di sana; terkurung sendu

Hari ini tak kutemukan senja di matamu
Padahal matamu tak lagi terpejam erat
Katamu senja telah pergi; bersama rindu

Namun senja tak pernah berniat pergi
Dia selalu ada di sana, menatapmu dari kejauhan
Memastikanmu bahagiabersamaku di sini

Senja tak pernah benar-benar pergi
Meski hanya sementara memeluk penuh kehangatan
Esok hari, di tempat yang sama ia akan kembali

Ciawi, 01 Maret 2017

 
KADO TERINDAH UNTUK LELAKI REMBULAN
(BUAT LELAKI BERWAJAH REMBULANKU)

Pada malam di bawah Jembatan Ampera
Air yang menari-mengajak berdansa
Kerlip lampu berpendar; indah berjiwa
Melindapkan sebuah kalbu nan bergelora

Laki-laki berkacamata pembawa gitar
Senyummu, mengalihkan perhatian bintang bersinar
Dan aku menanti hadirmu dalam diam; samar
Jika nanti ‘kan kaumainkan satu dua lagu. Aku berdebar

Rupanya malam ini matamu sendu
Seusai kaupetikkan alunan merdu senarmu,
Kacamatamu bersalaman dengan kursi tunggu.
Sementara aku; masih berharap kau menyadari hadirku

Ibarat Burj Khalifa dengan ratusan lantainya
Cintaku lebih dari itu-kagumku berbeda
Kau laki-laki berkacamata pembawa gitar tua
Wajahmu menyerupai rembulan di atas sana

Tentang kado yang kubawa dengan gemetar
Tak lagi kesumba warnanya; telah memudar
Kusematkan kado terindahku dengan sadar
Pada hatimu-yang mengalami luka memar

Palembang, 10 Februari 2017



PUISI YANG TAK SEMPAT KUBACAKAN UNTUKMU

Ini adalah sebuah puisi
Sebuah ungkapan perasaan hati
Mungkin kau akan tertawa
Atau mungkin kau tak akan suka

Tapi ini adalah sebuah puisi
Yang hanya kutuliskan satu kali
Saat-saat kau sedang berusaha
Melawan rasa sakitmu di suatu senja

Ini adalah sebuah tulisan
Yang akan mengungkapkan kejujuran
Betapa ketakutan akan kehilanganmu
Seakan menjadi hantu dan mencekam jiwaku

Tapi ini tak lain hanyalah sebuah tulisan
Yang kususun atas nama kerinduan
Rindu dengan keceriaan dirimu yang dulu
Saat kau masih bisa menyanyikan sebuah lagu

Ini adalah sebuah puisi cinta
Kutorehkan dengan jutaan perasaan
Akan kubacakan saat matamu telah terbuka
Akan kuceritakan saat bibirmu menggariskan senyuman

Tapi jika nyatanya kau tak suka
Jika pada akhirnya akan ada kemarahan
Jika perasaan ini merusak persahabatan kita
Aku berjanji tak akan pernah ada keterpaksaan

Kumohon padamu, bangunlah!
Agar puisi ini dapat kubacakan segera
Kumohon padamu, dengarkanlah!
Aku mencintaimu, selamanya….


TENTANG SEBUAH PERASAAN

Telah kugenggam waktu kala itu
Yang setiap rindu kulipat jadi satu
Karena hanya ada untukmu selalu
Bahkan saat dirimu mulai berlalu

Kau tahu, betapa sulitnya jadi diriku?
Detik demi detik harus melangkah kaku
Mengulurkan jemari ‘tuk menggapai bayangmu
Menatap ragu dari jauh akan adanya hadirmu

Telah kusimpan lama sebuah perasaan
Yang setiap saat kucoba tepiskan
Karena bertahan telah menjadi kepedihan
Bahkan saat dirimu mulai terjauhkan

Kau tahu, betapa airmata telah menjadi perubahan?
Satu demi satu kisah mulai kauruntuhkan
Melepaskan dan menyerah telah kaujadikan pilihan
Kau tak pernah tahu tentang aku dan sebuah perasaan

Dua bulan yang lalu, saat kaulepaskan hidupmu
Saat kautinggalkan aku dalam tangisan tanpamu
Saat kau belum mengetahui perasaanku padamu
Saat puisi-puisi ini tak sempat kubacakan untukmu

Lalu apalagi yang mampu kulakukan?
Selain menatap nanar namamu pada sebuah nisan
Sedangkan rintik hujan di hatiku belum juga diredakan
Kau yang telah pergi, ternyata tak bisa kulupakan



BINTANG YANG PALING TERANG

Ketika di hatimu tercipta nada kerinduan
Tataplah langit senja yang telah menjingga
Kau akan temukan aku di sana dengan senyuman
Kau akan mengingatku bersama jalinan kasih yang pernah ada

Ketika di hatimu mulai timbul serpihan keraguan
Bersama airmata yang perlahan turun terasa
Kutunjuk bintang di sudut langit malam perpisahan
Kausesali perkataanmu, kausesali pujianmu, untuk aku yang kaucinta

Katamu...aku adalah bintang yang paling terang
Selalu ada untuk menyinari hamparan langit malam
Pujimu...cahayaku yang paling benderang
Hingga di mana pun engkau berada, kau akan melihatku walau temaram

Dan ternyata kaubenar, aku adalah bintang yang paling terang
Cahayaku telah habis terkikis, seiring waktu yang menjelma garang
Karena bintang yang paling terang adalah bintang yang paling cepat mati
Dan aku telah menyerah pada takdir yang mengharuskanku untuk selamanya pergi



SAJAK UNTUKMU, CINTA DIAM-DIAMKU

Aku mencintaimu dalam kepedulian
Menyayangimu dalam keterdiaman
Mengagumimu dalam kerinduan
Menyimpan senyummu dalam sebuah angan

Selalu mencarimu di tengah keramaian
Memikirkanmu dalam kesendirian
Mengingatmu dalam nada-nada keraguan
Lalu sekuat hati untuk melupakan

Namun aku melihatmu ada di balik senja
Melihatmu ada di antara pelangi yang berwarna
Lalu bagaimana aku harus melupakannya?
Sedangkan semuanya terasa bahagia

Bulan telah tenggelam, sesaat seusai hujan
Ingin langkah kecil ini datang padamu dan mengatakan,
“Tataplah warna-warni pelangi yang kulukiskan!”
“Rasakan tetesan embun yang kukumpulkan dari dedaunan!”

Ah, tapi aku tak memiliki secuil pun keberanian
Aku hanya mampu menatapmu dari kejauhan
Memastikan hidupmu dalam kebahagiaan
Mengirimimu bisikan doa pada Tuhan

Ketika bulir airmata telah berkata
Mengeluh pada hati yang mencinta
Cukup kuseka dengan senyum derana
Cinta diam-diam ini, biarlah hati berbicara dengan caranya



FRAKTUR DI HATI

Tak perlu kamu menangis berdiam
Bintang bersinar karena adanya malam
Saat itu langit akan menghitam
Kamu tentu paham kenapa semuanya kelam

Tak usah kamu merisau hati
Hati bercahaya karena cinta suci
Saat itu kesuciannya akan menyinari
Kamu tentu mengerti kenapa semuanya berarti

Ya, hatiku telah patah mematah
Bukan frakturnya karena tak terarah
Karena radar cintamu telah memecah
Tinggalkan keping hati menyisih meremah

Baru terasa bukan penyesalan itu ada?
Semua yang sudah satu hati saja
Mampu tercabik dalam setitik salah tersisa
Tinggalkan kehancuran dalam fraktur di hati merana


DIA…. DIA…. DIA….

Cahaya yang dia keluarkan secemerlang Capella
Lalu menyala berjuta kali menjelma supernova
Dalam galaksi Bimasakti berbentuk  samar pita cahaya
Dia… mendeklinasi dan menandai khatulistiwa angkasa

Karakter  yang sekokoh terumbu karang di sukma
Hingga getaran yang terasa terhubung  homoseista
Dalam garis tawanya laksana goresan relief laguna
Dia… memproyeksikan diamnya dalam bidang sempurna

Dia…. Dia.… Dia.…
Adhesi untuk perasaan yang semula tak sama
Mengkonveksi lewat aliran zat putih dalam setia
Bereaksi menjadi senyawa aneh bernama cinta

Dia…. Selalu saja tentang dia
Berakulturasi atas pertemuan tanpa disengaja
Lalu berasimilasi melalui celah hati yang terbuka
Dan kini ‘kan kucetak dengan bivalve yang istimewa


CINTA YANG TAK SAMPAI

Aku masih bercanda dengan angan
Masih menggantung asa di atas awan
Masih menari bersama bayangan
Masih menikmati wajahmu dalam renungan

Aku laksana mendung tiada berhujan
Mega kelabu membingkai kehidupan
Menatap nyalang sunyi kesabaran
Memetik bintang berkasih impian

Hati…  tak selamanya ‘kan terungkap
Menyudut di sela sayatan lanskap
Terkadang getarannya pun melindap
Tersembunyi dalam dekorasi senyap

Cinta… tak selalu harus terungkap
Nada-nadanya bersenandung menyelinap
Menggubah gita mengepakkan sayap
Dan di sini aku menunggu satu harap

Namun sang cinta mendekamku
Dalam mozaik elegi pilu nan sendu
Cintanya telah berada di hati sang bayu
Meninggalkanku bersama bongkahan ragu

Akan kunikmati penyesalanku
Bersama dentingan piano menderu
Cintaku tak sampai untuk bersatu
Menyisakan puing hati dalam puisi waktu


CINTA SEJATI

Cinta… lahir dari hati dan singgah di sana
Adanya pun bukan karena keterpaksaan
Saat sang bayu melambungkannya tinggi
Tak satu pun yang mampu menghalangi

Saat hati berbicara dengan caranya
Melebur keraguan tercipta kesetiaan
Ketika itu cinta sejati merekah indah
Menembang kidung rasa mengharu harmoni

Dalam relung hati inginkan keabadian
Tetap meraih sinar yang mampu temaramkan gulana
Namun masalah takdir siapa yang tahu
Tiada beriak gejolak hati, mengombak tangis dalam nyawa

Ya, takdir itu harus memisahkan cinta
Menghilangkan separuh jiwa, terpisah sementara
Beraneka rupa percak percik  lara mendekam
Bukan berarti hidup sampai di sini, bukan?

Cinta sejati, kehilangan, takdir, kepedihan….
Mengajarkan betapa hidup sangat berarti
Demi cinta sejati yang pernah menyapa sukma
Bangkitlah! Demi meniti asa dan cinta yang baru


CINTA MEREDUP KESAH

Kukecapi tetesan airmata langit
Menentang deraiannya berpilu sakit
Sakit di hati, terasa amatlah sulit
Sulit merangkai perasaan ‘tuk membangkit

Adalah ketika airmata ini telah bicara
Mengeluh pada hati yang merasakan cinta
Adalah ketika sukma ini menentang rasa
Seakan berlumur dengan hitamnya jelaga

Hati ingin melukis cinta itu kembali
Namun sulit tergores dalam kanvas bermisteri
Terasa ingin berhenti dan menyudahi
Namun sisa kekuatan itu masih mewarnai

Sulitnya mencintaimu dalam angan
Tak semudah membalikkan telapak tangan
Sakitnya menyayangimu dalam keterdiaman
Menggubah mozaik sendu mematah harapan

Bila suatu saat jika semua telah berubah
Pelangi berteman malam dan siang meresah
Senja memilu dan lembayungnya terpisah
Baru jua disadari, cinta telah meredup kesah


RENJANA SEMU
Rindu itu sehitam jelaga
Garis abstrak merenda dahaga
Entah… hanya entah yang kutahu
Saat hambar meraja kalbu

Rasa pernah menguat sukma
Senyuman pernah menjadi irama
Bahkan… mozaik rasa itu pernah merindu
Ketika renjana yang dirasa bukanlah semu

Namun siang akan terganti malam
Terang pun suatu saat akan menjadi kelam
Sebuah kisah tiada yang abadi
Dan kini hadirlah renjana semu menghiasi

Bukan sebilah salah membelah meredam
Ini hanya sebingkah ketidakmengertian mendalam
Tangan melemah ‘tuk menggenggam janji
Dan serpihan rasa semu terpatri di hati


 TERISTA TAK BERUJUNG
Telah merisau hati dalam gempita rasa
Kucicipi lalu kutelan kepahitan
Melukisi dinding sukma bersusahan
Tiada dipertanyakan lagi alang tercipta

Sungguh rengsa himpitan meraja
Bahkan senyuman pun terasa beban
Hingga di batas hari bernaung rawan
Sia-sia sajalah damba bersusun derana

Kau kupuja, kau kudamba, kau kucinta
Namun  senandung elegi yang kaumainkan
Pun saat haus, air tuba yang kausajikan
Lalu di manakah sebuah hati yang mencinta?

Terista ini hasil ketidaksengajaan yang kaucipta
Pelengkap airmata tak terbendung badan
Yang  sudah tak berujung, tak berkasihan
Engkau bersama dia melukis teristaku di sukma


TUHAN, DI MANA IBUKU?
Aku terduduk di antara puing-puing kerikil membentang
Menanti sang Ibu yang kuharap akan menjemput kembali
Aku tak mengharap Ayah datang
Karena kulihat ia tertidur di tepian jalan penuh darah dan api

“Biarkan Ayah tidur, Nak!” kata ibu meyakinkan
Aku mengangguk dan sedikit kebingungan
Kenapa Ayah tidur di jalan yang kata Ibu berbahaya
Ibu segera menggendongku dan berlari sekuat tenaga

Suara berdentum membuat Ibu berlari sangat kencang
Airmata keluar dari pelupuk matanya
Aku baru hidup empat tahun di buana
Buatku belum mengerti keadaan apa yang tengah terjadi sekarang

Ibu ditarik  lelaki besar pembawa pistol seperti mainanku
Meraung-raung kudengar suara Ibu yang dipaksa melepas tanganku
Di sinilah aku sendiri, menunggu Ibu datang
Hingga tubuhku ringan dan melayang, ibu tak jua datang

Tuhan, di mana aku sekarang?
Ini bukan lagi kotaku, Palestina, yang banyak darah dan api
Tuhan, di mana Ibu? Kenapa ia tak datang?
Ah, tapi aku merasa aman dan nyaman di sini


TENTANG IBU
Ibuku….
Adamu laksana bintang
Biar pun sunyi tetaplah bersinar
Menebar pendar benderang
Melukis titik-titik berbinar

Ibuku….
Suaramu laksana kidung
Penawar untuk sebongkah payah
Melindungi bagaikan tudung
Mengusir  terik dalam mengayuh langkah

Ibuku….
Kasih sayangmu laksana bayu
Membelai sejuk amarah membuncah
Mendekap hangat lembut mendayu
Mengembangkan semangat yang hampir patah


TERIMA KASIH, IBU
Pupuslah sebuah harapan
Mengoyak semangat setajam pisau
Pedih dirundung kegagalan
Mengguguh tabuh bersuara parau

Kini tinggallah setetes airmata
Kauseka dengan jemari lembutmu
Derana merasuk dalam sukma
Bibirmu tersenyum menenangkan kalbu

Ibu, duka ini menderu derai
Inginkan sinar temaramkan gulana
Kehadiranmu menghapus semua luka tergerai
Kaumampu meruntuhkan sendu hingga mereda

Terima kasih, Ibuku tercinta
Kau pelita dalam gelapku
Terima kasih, Ibuku tercinta
Kauwarnai hitamku dengan kasihmu


TENTANG DIA (Pengagum Rahasiamu)
Dia… menyukai senyumanmu
Dia… mendambakan hadirmu
Dia… menantimu di kala malam
Dan dia memikirkanmu dalam diam

Dia… mencoba mengharapkanmu
Dia… merangkai dan menyimpan tawamu
Dia… melukis  bayang temaram
Dan dia membingkai hatinya yang kelam

Tentang dia yang tak pernah engkau tahu
Adanya yang tak pernah mengusikmu
Dia berada dalam sunyinya langit menghitam
Dia menjagamu dalam setiap doa-doa malam

Tentang dia, pengagum rahasiamu
Tak lagi dihiraukannya rasa pedih itu
Tak lagi dikenalnya perasaan yang terbenam
Yang dia tahu hanya membahagiakanmu dalam diam


TANGISAN DI BALIK SENYUMAN
Tergelak menertawakan kebodohan
Mengutuk diri yang tiada berarti
Kehilangan harga diri dan masa depan
Terjun ke dalam panasnya kawah berapi

Aku, si “Kupu Kupu Malam”
Hanya kehangatan tubuhku yang dicari
Duniaku yang hanya mengenal warna hitam dan kelam
Tak seorang pun yang tulus mencintai

Kepedihan berlapis penderitaan yang kurasakan
Kuhadapi dengan tangisan di balik senyuman
Sekuat diri memaksa, mencari dan mengiba
Pada setiap manusia bejat yang menghamburkan harta

Setiap kali mengenang perbuatan kotor berlumur dosa
Jiwaku seakan berontak sekuat terjangan ombak
Timbul tenggelam menghalau arus dilema
Berusaha mencari daratan untuk istirahat sejenak

Bukan tanpa alasan kulukis awan kelabu di atas kanvas kehidupan
Namun tuntutan hidup itu sendiri yang mengharuskan
Jadilah aku, seonggok daging busuk di tengah wadah kemaksiatan
Hanya untuk memenuhi kewajiban di atas kelemahan



SIAPA AKU KINI?

Laksana kelana mengitari mayapada nan mega
Terseok jatuh bangun meniti asa berjela, menjelma serasah
Kandas tak tersisa, rengsa berteman gagal nestapa
Bergelut kemarau, berhenti menanti hujan dalam gubah

Hingga tak tersisa airmata ini, masih jua mengombak tangis dalam sukma
Mengenang harapan semu, menderu air terjun di jurang
Di atas dahan yang retak mengering, kupasrahkan raga
Tiada beriak gejolak hati, kelut lemah menembang

Meraih tudung harapkan pelindung kepedihan akan kegagalan
Berderai bulir bening teriring himpitan menyeruak gulana
Menepi mencari serpih asa, namun tak jua tergenggam dalam tangan
Pada sebuah senja di bawah langit jingga, tengadah menunggu bahagia

Siapa aku? Siapa diriku?
Manusia pemimpi, insan yang sukmanya terpatri dalam lembah rimba
Adakah kamu? Adakah dirimu?
Mengerti aku, mengerti kamu, kita yang gagal menjemput asa

Inilah aku, sang angin yang desirnya tak lagi memberi kesejukan
Inilah aku, sang mentari yang sinar hangatnya tak mampu lagi bersahabat
Inilah aku, sang bunga yang indahnya tak lagi menebar wewangian
Inilah aku, sang laut biru yang luas membentang namun tak bermanfaat

Ah, hidup memang beraneka rupa percak-perciknya
Hal biasa bilamana harus menghadapi secawan kegagalan
Setiap insan bernyawa memiliki perasaan lara menyelubungi jiwa
Namun akan ada setetes embun sebagai pelipur menghias angan

Derana, saat yang laik untuk dilakukan dengan senyuman
Diri ini haruslah bangkit mengusir durja kelam nan kelabu
Kesempatan bukan hanya satu kali singgah pada peraduan
Kesempatan datang berkali-kali asalkan mampu menggubah kalbu

Siapa aku kini? Siapa diriku sekarang?
Melebarkan bibir, tersenyum sumringah pada mayapada nan mega
Mari menembangkan tembang kidung pemenang
Aku adalah mestika yang dielu-elukan dengan bangga

Lalu kamu? Siapa dirimu kini?
Wahai saudara, bukan hendak mengajarimu tentang suatu kehidupan
Ini hanyalah pemberian contoh dalam celah batu membuih pati
Mari segera pindah haluan menuju ombak tenang dalam lautan


SECUIL HAK DALAM LAUTAN KEWAJIBAN

Kala yang laik dalam naungan semesta
Pintu terkatup menyusup raga yang berlaga
Merasa panas kian melemas, menyemai semu belaka
Mereka terlupa, berkurung kabut nan senantiasa alpa

Suara mercak-mercik dalam debur ombak kecil
Memecah sadar menyerang ribuan pembatas kerdil
Menyuarakan isi sanubari menghalau tindakan batil
Sukma mengaduh tak inginkan menjinak centil

Dunia… Tiada mereka ingat desah semangat
Secuil hak dalam lautan kewajiban telah disemat
Hati kesal berlapis sesal, kini kian menggeliat
Bulir bening bertindak, menyeruak dan mengikat

Tiada terkenang mendapat senang pada kalbu yang resah
Meraba buta sang lempua bersarang rendah
Ingin tergerak hati, hendak berbakti dalam susah
Merawan-rawan lagu bernada, perlahan memecah

Mereka jualah manusia, sang perempuan bersukma
Mendambakan keadilan bersisi hak asasi manusia
Sudah selayaknya gempita suara atas angkasa
Menjadi milik sah, beriring hak sang perempuan berjaya



SEBENTUK CINTA BERBENTUK DUKA

Singgasana cinta bertabur permata laksana di surga dalam impian kita
Kini telah ada dalam genggaman kau dan aku yang berada dalam naungan bahagia
Ucapan teriring alunan syahdu, linangan bulir bening menapaki setiap jengkal wajah
Kita berhasil menjadi pemenang di antara ego, emosi dan godaan yang membuncah

Kita telah saling memiliki, menyatukan hati, berucap janji membangun cinta
Kanvas seluas langit biru membentang pun tak mampu menampung lukisan rasa ini
Kita berdua merajut benang kasih, menghias warna warni mahligai rumah tangga
Melangkah seiring derap asa yang kau tuntun dalam pangkuanku berupa sucinya janji

Kau bagiku adalah terindah, menghiasi hati yang penuh bongkahan cinta untukmu
Walau terkadang segelintir rasa khawatir saat jauh darimu menari dalam pikiran
Namun, dengan tanpa ragu ku pilih setiap rindu mengisi ruang hampa tanpa dirimu
Karena kau kini tengah berjuang di sana dan meninggalkanku dalam kesendirian

Untaian doa beriring harap selalu ku panjatkan untuk keselamatanmu, imamku
Cinta tulus kita yang berbungkus kasih sayang kini telah ku ikat dengan tali kepercayaan
Sudah ku usir susunan kecemasan, namun kekhawatiran masih berbekas pada benakku
Sungguh rindu mengikatku karena sudah dua purnama tak kita lewati dalam kebersamaan

Penakluk hatiku…. Hanya genggaman tanganmu yang mampu menghalau rasa gelisah
Pasangan hidupku…. Sampai mata ini cukup lelah masih tak ku dengar kabar akan dirimu
Hingga suatu malam yang sepi, guratan wajah malam alam tampak tak ramah
Aku mendengar jalan perjuanganmu yang berujung pada kematianmu dari sang ibu

Mungkin sudah saatnya waktu mengharuskanmu untuk pergi, waktu berpisahnya kita
Kenangan yang tersisa, cinta yang terpisah, akan selalu ku jaga dalam rasa berbalut duka
Cinta yang teramat dalam ini ibarat palung laut yang masih bersarang pada naungannya
Hujan meteor dan peraduan bintang ganda pun tak sehebat rasa cinta yang ku punya



PUTRI CANTIK YANG TERTIDUR
Pulau nan elok membelah di antara Pulau Komodo dan Bali
Garis Wallace mengukirmenandai batas flora dan fauna Asia
Dandanan kebudayaan dan hiasan alam yang memikat hati
Berkelana di antara lembayung senja dan temaram mega surya

Tanjung Aan yang dipisahkan sederetan batu karang
Celah bebatuan menjadi gerbang arungi laut lepas Samudera Hindia
Suara alam berbisik membelai sukma seraya berdendang
Melukis dan merekam cerianya gelak tawa para bocah yang bercanda

Mata dunia menikmati barisan perbukitan di lereng Gunung Rinjani
Kesuburan tanah sumber kehidupan penyambung nyawa
Di sini aku melihatmu ada di antara warna warni pelangi
Di sana mereka melihatmu ada di balik senja menyelimuti cakrawala

Dalam garis lekukannya laksana goresan relief laguna
Mendeklinasi dan menandai khatulistiwa bumi
Memproyeksikan bentuknya dalam bidang sempurna
Tiada sedikit pun terdeteksi fraktur yang beradhesi

Lombok.... Sajian keindahan nan ketenangan darimu
Bagai Putri Cantik yang masih lelap tertidur
Hamparan Pantai Senggigi layaknya permadani menghiasimu
Semilir angin lembut menerpa lembaran dedaunan nyiur

Kukerjapkan mata melindapkan gerah meluruhkan hampa
Kucoba dengarkan kidung yang menelusup perlahan
Lewat ombak laut biru yang menukik rendah memanjakan mata
Di mana lagi dapat kupeluk mesra hadiah Tuhan

Seolah bercahaya secemerlang Capella di temaram malam
Berasimilasi pada bintang yang tersenyum riang
Pada langit Lombok kutengadahkan wajah merindu dalam
Apakah esok masih kudapati pulau ini seindah sekarang?

Lombok…. I love you, rasa kagumku memancar untukmu
Tetaplah menjadi gugusan pulau yang membanggakan
Yang tiada henti berpijar selalu untuk Indonesiaku
 Yang mampu menjadi detak jantung dan denyut nadi kehidupan


PUISI UNTUK PALESTINA
Hidup dalam genangan darah dan airmata
Suara tembakan dan tangisan menghimpit gulana
Hak ditarik paksa dari sang mayapada
Berkurung kabut kemelut dalam lembaran rengsa

Kejahatan perang di bumi Palestina
Buah kebiadaban dan kebangsatan Israel  mendera
Hujan bom menyelimuti kota Gaza
Mayat-mayat bergelimpang kehilangan nyawa

Adilkah menganiaya penduduk yang nyaris tiada bersenjata?
Dengan senjata-senjata tercanggih mematikan raga
“Bukan Teroris!” teriak marah bersuara
Jika membunuh anak bukan teroris, lalu teroris itu apa?

Palestina, ceceran darah ini dan tumpahan airmata
Terempas tiada sempat mengait derana dalam sukma
Bergelimpang nyawa-nyawa kecil tak berdosa
Akan menjadi saksi perjuangan berbuah surga

Saudaraku, memintalah kepada Allah semata
Umat muslim bersama dalam satu perlindungan-Nya
Yakinlah bahwa akan ada akhir dari semua ini, Palestina
Karena Allah tidak tidur dan memiliki kekuatan mega


PUISI UNTUK KEKASIH
Mentari kala itu tersenyum
Buah di pepohonan pun meranum
Semerbak wewangian bunga mengharum
Aku dan kamu, laksana benang dan jarum

Langkah kecil menapak buana
Tengadah pada langit jingga
Kita mengayunkan tangan sambil tertawa
Namun sayang, aku dan kamu hanya kenangan semata

Kasih…. Kini kudatang kembali di sini
Duduk berteman alam dan menyepi sendiri
Mengingatmu adalah terindah sekaligus meremukkan hati
Saat laik yang kuimpikan melambung tinggi

Di kiri tangan, tergenggam erat sebuah mirat
Tempat berkaca untuk wajah pekat
Dulu kamu mengagumi adanya semburat
Tapi entah, kini telah tertiup bayu menyikat

Kasihku… rembulan malamku
Mengguguh tabuh sukma beradu
Hidup tak mudah kian kujalani hitam kelabu
Menyemai titik-titik luka setelah kepergianmu

Akankah kamu kabarkan Aurora berbentuk tirai?
Sudahkah kamu pandangi Andromeda luas tergerai?
Apakah kamu telah berada dalam surga nan damai?
Mampukah kamu melihat airmataku yang kini kian berderai?


PUISI UNTUK IBU
Adamu laksana bintang
Biar pun sunyi tetaplah bersinar
Menebar pendar benderang
Melukis titik-titik berbinar

Suaramu laksana kidung
Penawar untuk sebongkah payah
Melindungi bagaikan tudung
Mengusir  terik dalam mengayuh langkah

Kasih sayangmu laksana bayu
Membelai sejuk amarah membuncah
Mendekap hangat lembut mendayu
Mengembangkan semangat yang hampir patah

Ibu….
Lelah tak lagi kauhiraukan
Menggubah bahagia bertarung debu
Demi anakmu dan sebuah harapan

Ibu…
Rengsa sudah tak kaurasakan
Menyongsong asa menghapus semu
Untuk anakmu dan masa depan

Keteguhan berbalut senyuman
Tentramkan sukma hitam kelabu
Bangkit berbimbingan tangan
Bersama menepis goyah menderu

Sadar sesadarnya
Hanya Ibu hal terindah
Mewarnai sang mayapada
Bertahta perhiasan megah

Inilah larik puisi goresan pena
Tanda cinta berbahana kasih
Persembahan untuk Ibu tercinta
Beriring tembang rindu nan jernih


PUISI SEJUTA ARTI
Setiap tarikan napas  berembus, kuinginkan berarti
Derap langkah menjajaki perjalanan hidup dambakan lembaran mimpi
Walau terkadang himpitan kemampuan meremukredamkan jiwa
Berdalih mengalihkan seutas tali harapan dalam naungan mega dunia

Degup bernyawa berlomba menarik keluar serpihan ragu
Kencang digenggam tangan nestapa, tertekan batangan pilu
Riak angan membesar menjelma gelombang terhempas kecewa
Rumpun kegigihan tertendang sepak terjang tawa renyah putus asa

Dunia memusuhi, tapi masih ada ruang kecil sanubari
Menyediakan naungan nyaman, tempat aktualisasi diri
Perasaan halus mengalun, terangkai kata bernada  menyuarakan resah
Berbalut senyuman kecil yang meniadakan bongkahan kata menyerah

Puisi….
Kupeluk tubuhmu dalam dekapan hati dan jiwa bertitik peduli
Kupeduli pada hidupku, pada hidup orang yang menyayangiku
Menyambungkan untaian benang kasih, menyulam hidup baru

Puisi….
Denganmu kumiliki dunia, bebas mengangkasa, melayang tinggi
Tak lagi kuhiraukan setiap jengkal tapak cemooh yang sendu kelabu
Kuhanya terpikir melanjutkan goresan pena, memberi nyawa pada jiwaku

Kini kuhanya berteman denganmu, bersahabat dengan rindumu
Melebur satu napas, menggenggam erat tanganmu, bermimpi  dalam tidurku
Laguku dalam menelusuri  setiap jengkal area untuk bertumbuh
Puisi untuk hidupku, puisi untuk jiwaku dan puisi untuk hati yang rapuh


BERMIMPI UNTUK MIMPI
Mimpi…. Biarlah kutertidur lebih lama lagi
Melayang hilang dalam desah risau hati
Bercengkrama dengan titik-titik hujan menari
Mengalun bersama kidung kesepian diri

Berjela laksana layangan di langit bebas
Menggubah rasa tak berbalas namun tak berbatas
Menepis guncangan sukma bersama raga terhempas
Bertabur cinta nan pedih mengadu kalbu tertindas

Di mana diri ini harus berlari kencang
Meski tidur lelap berhias mimpi masih menjelang
Aku ingin merasa lebih lama lagi, namun hilang
Meski sakit lagi-lagi kudapati, berbenah bayang

Mimpi…. Ingin kuraih keindahanmu yang fana
Merangkai nada dalam sukma, walau fiksi belaka
Melukis merahnya Aurora, bercahaya di langit senja
Aku akan bermimpi untuk mimpi dan terus mencinta


PESAN  UNTUK  SI UPIK
Dayu mendayu dalam buaian kidung
Mendekap erat sang buah hati
Tangan sebelah terulur memegang tudung
Sembari menanti datangnya pagi

Bila dilihat mentari mulai tersenyum
Melangkah kaki ke tengah sawah
Hati riang memandang padi ranum
Semangat kalbu tandaskan gelisah

Kala matahari mulai terik
Sudahi kerja mengusap peluh
Pulang ke rumah rindukan si Upik
Merawat penuh kasih tanpa mengeluh

Anakku sayang, cepatlah sembuh
Aku menantimu dalam ceria
Biar badan payah menanggung sakit nan rapuh
Asalkan engkau sehat bahagia

Kasihku sepanjang masa
Tak mengharap adanya pamrih
Hingga habis nyawa dalam sukma
Tetap bersinar binar cinta nan putih

Kelak nanti, jika kau hadapi dunia
Jangan berpangku tangan, hanya menunggu
Lawan musuh dalam diri, demi asa
Agar tak rasakan derita menderu

Cukup diriku bersusah payah menanggung beban
Demi sesuap nasi ‘tuk menyambung nyawa
Rasakan pahit getir sang kehidupan
Tanpa pasangan berbagi suka dan duka


PERDAMAIAN DALAM PELUKAN ALAM
Terpaan angin menghembuskan udara menekuk rimbunan pohon
Sesekali pekikan hewan dan rintihan tumbuhan meneriakkan untaian kata memohon
Desiran gemercik air nun jauh di sana masih terdengar riaknya
Barisan bukit menyusun eloknya perih berbalut lembaran duka

Indahnya mata manusia memandang lekat pada jantung alam
Tak terpungkiri, nyanyian tipuan mengarungi terjalnya mega surya terdalam
Langit bersih tetap setia pada birunya menghiasi angkasa luas namun tak berarah
Kokohnya gubuk indah menjulang di tengah keindahan dunia fana terserang amarah

Tak selayaknya, alam yang diciptakan dengan bulir-bulir penuh berisi keindahan
Direbut oleh tangan manusia yang tak mengenal arti tanggung jawab dan pengorbanan
Berbisik di antara ego yang menguasai denyut nadi serakah demi kepuasan semata
Alam berbungkus rupawan mengeluarkan gertak kekesalannya hingga kau mengiba

Sadarlah! Alam berlapis keelokan itu memiliki jiwa yang mampu merasa
Jangan hanya terpukau, lalu merasa memiliki dan ingin menguasai
Mangganggu, merusak, menjamah, sampai tak tersisa lagi untuk raga dunia
Tertawa, bergurau, bercanda, dalam nista mendampingi nestapa diri yang terlampaui

Jika kau biarkan gunung tetap pada pegunungan yang melindungi di dalam
Jika kau bebaskan burung dan hewan lainnya mendendangkan nyanyian untuk alam
Jika kau merdekakan hutan dan memberi kekuatan lewat bongkahan kesadaran
Jika kau lukiskan senyuman pada awan putih yang berarak dan pada langit keteduhan

Maka, alam akan menebar benih perlindungan, kau pun merasakan ketenangan
Kala teriknya matahari menyinari bumi dan dinginnya air hujan membasahi mega alam
Kau masih dapat menyunggingkan senyuman, melompat tinggi tanpa keraguan
Bersama mengayunkan tangan, merasakan perdamaian dalam pelukan alam


PERAIRAN CINTA
Kaulah pengobat dahaga mendera
Mengaliri setiap sudut temaram sukma
Memainkan riak ombak rindu membuih
Hingga terangkai helai demi helai cinta putih

Cintaku padamu sebening air
Membasuh luka yang sempat hadir
Membersihkan jelaga pikiran ternoda
Mensucikan cinta, melindapkan rasa

Akan kuhiaskan cinta laksana oase di tengah gurun
Bukan hanya fatamorgana menembus semu penuntun
Bagai perairan cinta penyiram gulana
Menyayat lanskap, bertumbuh titik derana

Cintaku, pelepas dahaga pemberi energi
Hadirmu menyisihkan kegundahan hati
Kini kupinta hari kemarin sebagai kenangan
Dan hari esok sebagai sebuah harapan


DALAM SEBUAH PENANTIAN
Permadani laut biru tak lagi seindah mega
Air girang beriak, berombak, mematah hati
Merenung, meniti rua pada ombak sukma
Kedua mata pun terpejam, memeluk sunyi

Bilakah pisau sembilu sudah diasah tajam
Keberanian itu menyeruak membingkai raga
Namun kerinduan dan penantian tiada temaram
Menelusup menyandang sang mahkota

Kerinduan pada kekasih hati yang ditakdirkan-Nya
Penyempurna ibadah, menghias janji suci
Penantian memeluk mozaik lisan pada sketsa
Khitbah impian kian merayu kalbu berirama hati

Kapankah ‘kan kutemui saat itu membelai kelam?
Di manakah kehakikian akan menjemput sara?
Denting kesabaran menerpa iman yang menyulam
Menyulam gubahan gita cinta beriring deraian doa

Aku… masih di sini, berselimut pasir di tepian pantai
Menyapu cakrawala menembus dinding langit
Memungut bunga mulia dalam ranah merinai
Dan aku di sini tetap menanti meski kurasakan sakit


Penantian di Lembayung  Senja

Nyanyian angin dan tarian dedaunan mengiringi langkahku
Terseok-seok jatuh bangun mengejar bayangmu
Radar-radar yang telah terpecah mengungkapkan kebekuan hati
Di atas hamparan mega surya aku selalu menanti

Dirimu yang telah berbeda dunia meninggalkan cinta
Pada diriku, wanitamu yang menunggu di lembayung senja
Berkelana dan berkuasa atas keegoan rasa yang tertinggal asa
Berpagut dalam heningnya temaram jiwa nan hampa

Masih terekam dalam ingatan adanya janji tulus berpadu kata dalam tanya
Keluar dari hatimu melalui bibir yang tersaksikan oleh bumi di kala senja
Pada tempat penghidupan perkumpulan pohon-pohon bahagia
Kau ukir nama kita dengan ayunan jemarimu lalu kita tertawa

Tapi apakah sekarang kau tahu tentang hati yang mencintaimu
Aku… sudah tak bisa bahagia,  tak bisa secerah mentarimu dulu
Aku hanya bisa mengingat kisah kita yang tetap hidup
Di antara deretan pepohonan juga senja merah yang kini telah redup

Tetesan air bening mengalir deras membasahi wajah nan pucat pasi
Terduduk dengan lunglai tanpa tenaga, menghentak luapan emosi
Tertunduk dalam dekapan galaksi bumi, pancaran cahaya temaram kelam
Melewati batas andromeda sampai memecah satelit kesadaran jiwa yang dalam

Kerinduan atas pengkonsolidasian hati  yang telah sia-sia kini
Hingga menguras air bening yang  membasahi  lembah wajah pucat pasi
Namun aku masih bisa bertahan di dalam angan-angan yang memanjakanku
Tenggelam bersama rasa yang membawaku terbang menembus dinding dunia baru


PELEPAH KASIH DI UJUNG SENJA
Mengingatmu, melukiskan pelangi di hati
Membayangkanmu, menghapuskan lara di sukma
Kenanganmu, lantunkan tembang kasih
Hadirmu yang sejenak singgah, melindapkan gusar

Jika cinta ini semerah darah, sebiru langit
Akankah warnanya mengukuhkan hati?
Bila sebening air juga seindah senja
Akankah  ia merangkai hati yang terpisah?

Bukankah Bumi masih berputar pada porosnya?
Bukankah Phobos dan Deimos masih setia pada Mars?
Lalu mengapa cinta kita berpalang elegi waktu?
Inikah takdir itu, yang selalu kaudongengkan untukku?

Oke, aku tak akan menyesalinya!
Sungguh percuma bila kulakukan
Namun, boleh bukan jika sejenak kuinginkan bayangmu?
Membaui pelepah kasih dan mengingatnya di ujung senja



OKSIGEN UNTUK CINTA
Cinta…. Adamu laksana udara
Berembus lembut pada buana
Merawan-rawan temaramkan gulana
Meniupkan napas derana sukma

Cinta…. Hadirmu sepenting udara
Berjela penyambung mozaik nyawa
Melambungkan asa seindah Aurora
Menjelma sublim mestika cakrawala

Cinta…. Meski terkadang hadirmu melahirkan elegi
Sehitam jelaga dan sepedih bilur di kaki
Namun  menyemai lindap mengharu harmoni
Kidung cinta tetap menembang di sela hati

Cinta…. Tak terlihat namun bisa dirasa oleh hati
Menggubah rindu pada titik nadir cakrawala sepi
Hingga tangan-tangan cinta selembut udara surgawi
Membelai sukma mengalirkan oksigen cinta suci

UNTUK HARIMU, BUNDA
Bunda… tataplah pelangi ini
Pelangi yang kulukis di langit basah
Yang perlahan mulai mongering
Mengajakmu mencari arti keindahan

Bunda… rasakan embun pagi ini
Kukumpulkan dari dedaunan rendah
Yang melekat pada untaian ranting
Menjanjikan kesejukan pada noktah berkilauan

Bunda Vero terkasih, selalu di hati
Pelangi dan embun telah kulapisi madah
Kupersembahkan untuk harimu yang terpenting
Di hari bahagiamu yang penuh senyuman


MERINDU UNTUKNYA
Dalam dekapan rembulan, hati ini mengungkapkan kerinduan
Radar yang tak berarah, beralih menerjang susunan kehampaan
Bibir terkatup, bergetar seirama denyut nadi memainkan nada
Kesendirian hati merasa menggugah setiap desah napas membara

Terjatuh lunglai, berusaha bangkit mengumpulkan serpihan asa
Terkuak dalam peraduan jiwa, menyeret arus gelisah mendera
Aku tetap di sini, menanti bunga bermekaran menebarkan harum semerbak
Dengan lara yang berhiaskan semburat merah, mencoba menyatukan jarak

Bintang malam… Rasa rindu kini tengah menyiksa aliran darahku
Kerlip cahaya yang kau pancarkan tak lagi mampu menahan rindu itu
Rindu pada dia yang sempat menitipkan cinta untuk kusemai dan kujaga
Rindu pada dia yang berhasil mencuri hati ini dengan caranya  yang berbeda

Embun pagi… Rasa rinduku semakin kuat seiring waktu berjalan
Kesejukan yang kau berikan tak dapat meruntuhkan rindu walau perlahan
Rindu untuk mendekap bayangan dirinya dan menyanyikan lagu cinta bersama
Bertatapan lembut, lalu membisikkan cinta terangkai nada bahagia

Lembayung senja… Rasa rindu yang berusaha kutahan kini mendekam di jiwa
Kehangatan jinggamu semakin membetahkannya, berdiam meraja
Kini kubenar-benar tahu, lapisan rasa istimewa ini tak mampu kuhindari
Dan aku mengalah, aku mengakui, jika dirinya sangatlah berarti


MEREKALAH PAHLAWANKU
Derap langkah mengiringi semangat nasionalisme penuh ketegaran
Melindungi segenap junjungan tinggi pada peraduan untuk bangsa berpijar
Menyeruakkan segmen ketakutan, menampakkan api keberanian, maju ke depan
Hingga berlabuh, tergopoh-gopoh mencari sisa napas kehidupan yang berlayar

Lumpuh terendam dalam aliran arus yang terombang-ambing bernada ragu
Gerak gemulai nyiur tak mampu membujuk sang arus yang menyeret jasmaninya
Kini satu lagi yang kandas kehidupannya, jatuh mencium tanah kelabu
Peluru menembus tubuh semangatnya yang beberapa detik lalu masih bergemuruh di dada

Mereka tahu resiko, mereka paham kematian, tapi mereka lebih mencintai Negara
Bukan untuk harta apalagi tahta, semata-mata hanyalah untuk kemerdekaan
Merekalah pahlawanku, membela dan melindungi Negara dengan hidupnya, tanpa dipaksa
Menggali dan mencari, menguak tabir, mengadu takdir, meninggalkan nikmatnya kehidupan

MEMELUK KENANGAN                                                         

Tatkala jemari merangkai kata, hati turut mengenang sebuah kisah
Mengingatkan sebuah tempat teduh nan cantik bergelimang eloknya titian alam
Batin  menangis kala terlintas kenangan pada sosok yang  lemah
Namun mampu menggetarkan jiwa dalam pelukannya, sehangat selimut malam

Masih terekam dalam bayangan akan sosok yang selalu berhiaskan senyuman
Kini ku hanya terpaku menitikkan bulir bening yang membasahi wajah duka
Desiran angin dan merdunya kicauan burung selalu membuka serpihan kenangan
Rumah kecil ini telah sunyi tanpa hadirmu yang mampu merenda lembaran bahagia

Nenek…. Dalam rumah indah kita, dikelilingi birunya langit bertabur awan
Kau selalu mengajarkanku tentang kebahagiaan dan arti pengorbanan
Tempat berteduh kita, tempat berkumpul keluarga kita yang beriring irama syahdu
Di sanalah kau buai dan manjakan diriku dengan tangan kasih sayangmu

Tubuh yang hanya berbalut kulit menampakkan tulang-tulang tua
Beban sakit menggerogoti hampir seluruh kekuatan pada jasmanimu
Kata terakhirmu untukku, terucap lemah menyiratkan akan kepergian segera
Akhirnya kau terbujur kaku, memecahkan tangisku menutup penderitaanmu

Nenek…. Hingga detik ini rumah kita tetap indah dalam buaian jantung alam berdendang
Mentari menyinarinya, embun menyejukkannya dan  bulan meneranginya
Rumah di tengah naungan eloknya dunia seluas galaksi membentang
Tetap akan berdiri kokoh seiring cintaku padamu yang bertahtakan emas permata

Putih buih ombak menemani langkahku merajut kemenangan di balik duka kehilangan
Selayaknya celoteh kecil yang selalu kau bisikkan kala diriku hampir berputus asa
Saat itu kau genggam tanganku mengalirkan semangat membangkitkan harapan
Sampai saat ini diriku tetap bersandar pada kekuatanmu yang selalu tertanam di dasar jiwa

LELAHMU UNTUK BAHAGIAKU
Dalam keheningan malam, kulantunkan kidung cinta untukmu
Larik-larik kata terurai mengharu harmoni dalam gemerlap bintang
Bulan naik tersenyum simpul, memuji rasa nan asa derana menderu
Secercah cahayanya berpendar, mendekap hangat cintamu yang tenang

Jika kau adalah matahari, pusat tata surya yang memberi hangat dan energi
Diri ini berharap tak akan pernah menjadi Sedna yang jauh darimu
Biarlah kuterbuang hingga tergeletak pada galaksi yang sepi
Andromeda nan luas tempatku, bersama kehadiranmu ibu

Dekapan hangat kasih sayangmu, memberikan keajaiban berlapis madah
Rengsa badanku terobati, menyibak sukma pedih berlapis lara
Lelahmu demi bahagiaku tak pernah berhenti bagai aliran serasah
Hingga setiap waktu hanya pelukmu yang menenangkanku menatap dunia

Ibu… Derai airmata ini tak tertandingi oleh meganya hangat kasihmu
Cintamu laksana penawar racun dalam tubuh rapuh putrimu yang terbaring lemah
Saat yang laik berirama syahdu, memandang wajah teduh dalam balutan sang biru
Aku dapat tersenyum, mengepakkan sayap dan terbang bebas menembus ranah


KITA JANTUNG NEGARA
Satu senyuman menyambut dentuman iringan nyanyian
Indonesia… Indonesia… Indonesia… Itulah nama negeriku
Wajah sumringah tanpa pias telah menutup kepedihan
Meluap rasa bangga untuk kemerdekaan negaraku

Siapa pengusaha kemerdekaan, rela memberikan pengorbanan?
Hingga darah tak lagi mengalir dan jantung tak lagi berdetak
Merekalah pahlawan… Dialah pahlawan… Engkaulah pahlawan
Kita pun adalah pahlawan sampai tulang belulang telah retak

Indonesia… Indonesia… Kaulah negaraku, kaulah negeriku
Sungguh elok rupawan dalam potret dunia
Kekayaan alam melimpah ruah menjanjikan kesejahteraan bangsaku
Negeri dengan berjuta gemerlap bintang di bumi nan mega

Indonesia… Serangkaian rasa bangga dan rasa cinta untukmu
Kehijauan tubuhmu dan jingga langit soremu melukis kecantikan
Namun disayangkan ada  manusia yang terkadang tega menyakitimu
Tanpa kesadaran jika dia merupakan salah satu jantung kehidupan

Jantung Indonesiaku adalah kita, penghuni dan penikmat negeri ini
Jika jantung melemah, jantung telah kotor, apa yang akan terjadi?
Sebaliknya jika jantung menguat dan bersih, apa juga yang akan terjadi?
Jawablah bersama masing-masing hati nurani penuh keikhlasan yang murni

Ulurkan tangan terbaikmu, letakkan jiwa dan raga untuk negara
Berikan senyuman termanismu, bangkitkan negara tercinta
Bawa terbang melayang sampai menembus galaksi Andromeda
Hingga mata dunia tak berkedip menatap keberadaan Indonesia

KETIKA JARAK MERAJAI CINTA
Ketika jarak merajai cinta, berselimut hangat langit cakrawala
Tarian ombak menaikturunkan keresahan pada pemikiran hati
Kawah-kawah pada pelataran Mars meringkuk permukaannya
Kini cinta menjelma bagai Sedna yang mengelilingi matahari

Diameter dimensi setia yang kuharapkan, menyudut kecil
Napas keletihan mendatarkan sudut penantian menderai
Kepingan hati terbang selaksa anai melayang labil
Singgah pada Andromeda, di galaksi yang sepi, menuai lunglai

Sekeping kecil kesadaran atas pengkhianatan, telah hancur dalam raga
Bulir bening mengaliri seluas jengkal wajah terurai getir
Inilah yang kudapat, kekecewaan melebur menyapu asa
Meluluhlantakkan pengharapan, menyambar sedahsyat petir

Kau tega mengkandaskan cinta yang kita semai bersama
Hanya karena rayuan beracun yang mengetuk hatimu bergilir
Cukup sudah aku hanya tahu bahwa dirimu membunuh cinta
Dan kini, sosok bayangmu telah berevolusi debu pada pasir yang berdesir


KEPAKKAN SAYAPMU INDONESIA!
Putihnya buih ombak pantai dengan dedaunan nyiur melambai
Pegunungan berdiri kokoh, aliran sungai menampakkan derasnya
Hamparan laut biru, kekayaan alam yang melimpah melukis damai
Sawah membentang dengan padi menguning menghias dunia

Tarikan magnet Negeri berkumpul menghasilkan sebongkah daya
Menciptakan keindahan kala jingganya langit di waktu senja
Indonesia Negeri penuh cinta akan memberikan cinta
Pada jiwa yang memiliki segenap cinta kasih untuknya

Janganlah berpangku tangan menunggu Negeri ini memberi
Tapi ulurkanlah tangan, berusahalah memberi untuk Negeri ini
Bermain otak sampai menciptakan sayap-sayap untuk Indonesia
Melatih dan mengajari hingga dapat mengepakkan sayap-sayapnya

Terbang ke atas dunia agar matanya melirik memang tak mudah
Namun sudah ada yang mencoba, melakukan dan mereka ternyata bisa
Kita dan Negeri kita tentu  juga bisa jika tak menghiraukan kata menyerah
Walau badai menerkam dan membunuh perlahan semangat yang membara

Terduduk lunglai, wajah pucat pasi, lelah dan lemah mendominasi
Raga terkilir, detak jantung berhenti, darah tak mengalir lalu mati
Inginkah keadaan seperti itu wahai pemuda pemudi Indonesia?
Masihkah merasa tak mampu dan berlenggang cuek untuk Negara?

Mulai detik ini, mari bantu Negeri  kita untuk menggapai angan
Membuka lebar sayap Indonesia dan mengepakkannya menuju impian
Indonesia tercinta akan melebarkan senyuman dan merentangkan tangan
Memberikan pelukan penuh perlindungan bagi yang berkorban


KAU YANG MENJAGA CINTA
Sejujurnya kukatakan, hati ini tak selamanya berhiaskan setia
Sesungguhnya kubisikkan, aku tak tahan lagi ingin mendua
Langit saja tak selamanya setia pada sang biru, kadang berganti jingga juga kelabu
Aku pun ingin begitu, menggantikan dirimu dengan dia yang selalu ada untukku

Kita terpisahkan jarak dan waktu, melahirkan kesempatan
Kesempatan untukku bertemu dia yang menawarkan sebongkah cinta berbalut ketulusan
Bukan diriku tak cinta, bukan juga tak percaya
Aku hanyalah manusia biasa yang hatinya mudah tergoda

Kita masih merangkai cinta, membina hubungan berbatas jarak
Kau tak tahu bahwa diriku di sini bermain khianat
Pada dirimu yang sepenuh hati menjaga cinta agar tak retak
Aku terlena hingga tiada tahu jika dia tak lain hanyalah lelaki bejat

Dia meninggalkanku hanya demi harta dan tahta seorang wanita
Janji cintanya dulu telah terbawa angin, menyisakan debu tak berguna
Penyesalan yang kurasa sungguh menggores kepingan hati yang bernaung kerapuhan
Apalagi kau di sana masih tetap menjaga cinta, meski tahu apa yang telah kulakukan


KAMI, DI KOTA DARAH DAN AIRMATA
Enam puluh empat tahun lamanya kami menderita
Hingga terkelupas kulit-kulit ini menyisakan luka
Menganga lebar, mematikan rasa dan asa
Kami masih bertahan dalam pangkuan derana

Hidup di kota penuh darah dan airmata
Diburu dan dibunuh selayaknya serasah hina
Kami tidak menginginkan ini semua
Namun kami akan hadapi meski bertarung nyawa

Kami diusit, kami diteror, kami dibantai, hak kami dirampas
Desa kami, Palestina, dibuldoser sehingga rata dengan tanah
Hollocaust oleh Zionisme Israel terus terjadi, merampas napas
Bombardir, penembakan, pelecehan, mengucurkan darah

Nyawa-nyawa tidak berdosa bergelimpangan nahas
Sukma-sukma kecil meraung-raung mencari ibu dan ayah
Ketakutan mendengar letusan, bersembunyi di balik puing cadas
Menjeritkan suara terakhirnya terkena peluru panas sang penjarah

Senyuman tiada lagi menghias setiap jengkal wajah ini
Cucuran aitmata berteman setia menunggu mati
Sudah tak mampu membungkus nelangsa dengan rapi
Menyerahkan hidup dan menyempatkan doa pada sang ilahi

Ya, kami sudah tak bebas, berdiri kaku menanti
Perlawanan ini akan berhadiah sebuah deraan mati
Allahuakbar! Allahuakbar! Lindungilah kami!
Hingga tak mampu lagi berkata saat peluru menembus hati


JALAN MENUJU SURGA
Duka ini menderu derai
Inginkan sinar temaramkan gulana
Di antara tangis pilu bergerai
Di antara hujan bom yang mendera

Darah di mana-mana
Jasad-jasad tergeletak tanpa sukma
Tangisan anak dan wanita
Suara peluru dan mesiu membahana

Palestina, deritamu tak kunjung usai
Perjuanganmu memangku takdir
Bertaruh nyawa menyatukan berai
Kebenaran dan hak terhimpit getir

Seorang tentara Israel menghancurkan rumah
Seorangnya lagi menembakkan peluru
Hancur, menjadi serpihan bercampur genangan darah
Di atas bumi Palestina bermandikan debu

Sungguh dasyat senjatamu, Israel!
Tiada kaulihat lawanmu tak bersenjata
Keadaan sulit yang kalian ciptakan, Israel
Menjadi jalan bagi kaum muslim menuju surga 


KARENA CINTA IBU
Ranah kalbu berpaut dalam kasih
Menjelma laksana haluan berbinar
Menderma sukma pada haluan sahih
Tersemat di antara jalinan cinta berdebar

Cinta kita, cinta utuh kita, Ibu
Layaknya Bulan yang setia pada Bumi
Tak kenal pupus, mengikat padu
Indah dalam lantunan tembang mengharu harmoni

Kala hati resah merindukanmu
Kala itu jua, debar jantung berangan
Membelai rindu dalam peraduan semu
Mendamba kaudatang, membawaku dalam dekapan

Senyummu adalah mimpiku, Ibu
Tawamu merupakan kebahagiaan
Meski kini kita berjauhan tak bertemu
Rasa cinta kita tetap menyemai asa kehidupan




INI CERITA “DIA”
Dia…. Tangan mungilnya terpaku menunggu dengan wajah letih dan pasi
Menunggu secercah harapan pada sosok angkuh di depan tubuhnya yang rapuh
Sesekali wajahnya yang dimakan debu dan peluh menunduk, tetap menanti
Ternyata, harapnya masih bertahtakan kesia-siaan, makian yang ia terima telah melepuh

Dia berlari menjajari hatinya yang terhempas, terlilit ombak kecewa yang terdalam
Menyeberangi lautan manusia, menepis deru kendaraan, dan melewati terjalnya jalanan
Dengan tangannya yang mungil, menyentuh perutnya yang kosong sejak semalam
Kini matanya dipenuhi bulir hangat, jatuh membasahi jengkal wajahnya yang kelelahan

Kaki tanpa alas yang telah mengenal baik tajamnya bebatuan dan hangatnya aspal
Terus melesat membawa tubuh kecil dekil tanpa tujuan, menghindari kepedihan
Hidupnya yang malang, menggantungkan diri pada sesama tapi berakibat fatal
Dia dihina, dicaci, dimaki, dianggap sampah, hingga mengkandaskan secuil harapan

Kini dia berhenti berlari, menghirup nafas yang masih bisa ia dapatkan
Berdiri menengadah, memandangi awan yang membelai birunya langit siang
Mulutnya berucap kecil, bercerita pada langit tentang kehidupan pelik yang dia rasakan
Tentang bagaimana pedihnya menahan lapar dan rasa sakitnya karena terbuang

Lagi-lagi perutnya berontak, si gadis kecil meringis dan berusaha bangun dari duduknya
Berniat menjemput rezeki, membunuh kepingan putus asa, merangkai titik harapan
Melangkah tertatih, beralaskan segenap jiwa, beriring lantunan nada sendu dunia
Tanpa dia tahu, akan ada yang membawanya pulang demi mengakhiri penderitaan

Turunlah tangisan langit malam, membasahi raga gadis kecil jalanan yang melemah
Lalu sebuah mobil merenggut nyawanya, melaju meninggalkannya tanpa perasaan
Di atas aspal,di tengah lalu lalang malam, tubuhnya kaku basah bercampur cairan merah
Dunia semakin kelam, kehilangan sosok tegar yang telah menikmati pedihnya kemiskinan


DIMENSI RUANG CINTA UNTUK BEJO
Mereka hanya bisa menabur duri-duri tajam dalam perjalanan cinta kita
Berkoar-koar menjeritkan jarak perbedaan yang teramat menusuk sanubari
Hingga kau pun memilih mengalah dan menbunuh semua kenangan bahagia
Melepaskanku, menjauh dari nista yang menggores perlahan pada kepingan hati

Kau sempat memelukku, membisikkan untaian kata cinta dengan lirih
Katamu kau akan kembali setelah menghapuskan jarak pemisah yang membentang
Senyummu mengantarkan paket kepercayaan pada diriku yang ringkih
Lalu kau pergi menjemput waktu milikmu bersama gemerlapnya bintang

Bejo…. Kini rinai hujan menemani langkah rinduku yang tertatih
Dimensi ruang cinta untukmu tiada beralas dan tanpa menuntut balas
Namun masihkah diri ini mampu merangkai setiap tetesan bulir bening yang kian letih
Menjadi sebongkah kesanggupan dalam penantian, demi cinta yang tulus tak berbatas


DENDANG KESAH ALAM BERNYAWA
Desiran helaan napas angin meniup dedaunan pohon yang terpaku menunggu
Menggoyang rerumputan, melenggang dengan kearifan selayaknya sang dermawan
Detak nadi perbukitan memainkan nada menemani pegunungan yang termangu
Kicauan nyanyian sekumpulan burung mendendangkan lagu duka berbalut kesedihan

Lihat! Laut biru berombak menukik setiap inci ketinggian gelombang
Nyiur di pantai pun tak sanggup lagi menahan kerasnya terpaan angin yang marah
Matahari mengajak langit membalikkan kewajaran pada integrasi yang tak ‘kan pernah datang
Tanah berbaris meneriakkan kepedihan, memprotes jengkal jejak yang bertingkah

Awan putih sempat melintas, memandang pada kenampakan yang memerahkan mata
Begitu banyak hal yang tak layak terlahir untuk dunia bertabur penguasaan alam
Alam tak pernah bersalah, alam hanya bisa marah dan menghukum setiap sapuan tangan jahil manusia
Yang tanpa nurani dengan seenaknya  menggeluti  seluas kemampuan  mengotori hingga alam berwarna kelam

Cobalah dengar! Desiran angin tak lagi selembut yang pernah kau rasa
Ayunan dedaunan dan rerumputan juga tak seindah yang pernah kau lihat
Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan jika alam mengeluarkan keluh kesahnya
Hingga tangannya mampu membolak-balikkan performansi spesifik dunia yang tengah menggeliat

Alam tak akan berdiam diri menanti radar-radar revolusi pada Bimasakti
Meski sejauh Sedna, nyawa alam tetap ada pada raganya, menghentak dan menuntut janji
Terus menerus menanti kesadaran , menunggu kehangatan lembayung senja menyapa
Mendambakan keadilan pada kewajaran demi menyambung nyawa bersama untuk sang Mega



HUJAN TERAKHIR
Rinai bening turun serentak menemani penantianku
Di sebuah sudut taman, tempat mengikat janji untuk bertemu
Benda cair dari langit makin membasahi tubuh menggigilku
Napas memburu, terdiam menatap sendu dalam kepingan sadar yang hendak menggebu

Harus berapa lama lagi kurasakan hujan menusuk kulitku?
Sayatan pilu perlahan menggores, memainkan debur ombak dalam benakku
Hampir menjelma sedahsyat tsunami menghanyutkan kesabaran menunggu
Senja yang telah berganti malam, menelan separuh rasa, meninggalkan setitik asa yang semu

Butiran air membisikkan, “Sudahi saja semua yang sia-sia!”
Aku terpaku, lalu mencicipi rasa hujan yang dingin dan hampa
Mengapa lagi-lagi kau tak pernah datang untuk janjimu, wahai cinta?
Sebenarnya, adakah dalam pikiranmu tentang diriku sedikit saja?

Ah, aku tak tahu dan tak pernah ingin tahu
Karena ketakutan akan kehilanganmu mengejar dan menghantuiku
Hati ini memang sudah terlanjur merajut benang-benang cinta hanya untukmu
Hingga menutup mata hati, dengan kerelaan mengacuhkan pengkhianatan darimu

Aku beranjak, memutuskan untuk menyudahi menanti kedatanganmu
Airmata tak terbendung, berjatuhan bersama derasnya air hujan kala itu
Aku berlari menembus hujan di tengah langit malam, menyesali kepercayaan utuh yang kutitipkan padamu
Dan kini, semua telah berakhir pada sebuah rel kereta api yang merenggut kehidupanku



HATI DAN KASIH DALAM PUISI
Hati itu berbicara tanpa suara
Sesekali bernyanyi tanpa nada
Memilin rapi tentang asa
Mendekap siluet buana di bawah senja

Hati…. Terkadang sesunyi malam
Melapisi sukma meremuk redam
Dayu mendayu lirih menghitam kelam
Mengharu harmoni pijar memadam

Telah mencicipi pahitnya kehilangan
Laksana aliran serasah, deras mencari persinggahan
Tengadah pada lembayung dalam penantian
Mengharapkan kekasih hati datang bersama angan

Merasa panas kian melemas, menyemai semu belaka
Hingga terlupa, berkurung kabut senantiasa alpa
Bibir terkatup tersentuh lelehan airmata
Mercak-mercik debur ombak hati kian nestapa

Hati…. Bila ini adalah salah satu takdir merajam
Aku tak inginkan dia menikmati rasa terbenam
Telah kurelakan lilin-lilin pun padam
Mengakhiri kisah kasih terpisah di makam

Laksana kelana mengitari mayapada tanpa harapan
Namun tegak berdiri di atas ranah dengan senyuman
Kekasihku… walau tak lagi bersinar bagai rembulan
Dalam relung hati, kau tetap terindah dan menenangkan




BERSAHABAT PERPISAHAN, BERTEMAN PENANTIAN

Menelusuri jalan di pinggiran pantai, tempat kesukaanmu
Membawa diriku terhanyut dalam bayang sendu sketsa wajah cantikmu
Desir pasir di pantai ini membisikkan namamu
Ah, betapa rasa rindu ini menyiksa batinku

Untaian air sebening kristal terpaksa jatuh membasahi pipi
Teringat cinta dan cerita kita yang sehangat senyuman mentari
Harus bersahabat dengan perpisahan dan berteman dengan penantian
Dalam dekapan senja, hati ini masih bertahtakan mahkota kesetiaan

Satu tahun sudah hari-hariku tak merasakan candamu
Hanya cintalah yang membuat diriku bertahan atas godaan
Meski dua benua memisahkan kita, kau tetaplah wanitaku
Dan aku percaya, kau akan kembali untuk merangkai cinta, mengobati kerinduan



AURORA HIJAUKU
Adalah kamu yang mampu
Mampu mengelupaskan luka
Luka yang telah mengering
Mengering dalam kehampaan

Adalah kamu yang bisa
Bisa memberikan air penawar
Penawar kegersangan rerumput hati
Hati yang tak lagi bersama hijaunya

Adalah kamu yang bersedia
Bersedia hatinya untuk kusinggahi
Kusinggahi dengan hati bermahkota
Bermahkota kepercayaan nan kerinduan

Kamu…. Aurora hijauku
Masih kunanti di sudut hati terindah
Biarlah jarak membentang arah
Kesejukan hijaumu tetap mendekap sukma



AKU MELIHATMU ADA
Aku melihatmu ada
Di antara warna warni  pelangi
Di balik senja menyelimuti cakrawala
Di dalam pekatnya langit malam

Bayangan mozaik wajahmu
Memecah kepingan sendu
Meluruhkan dedaunan layu
Menghapus tulisan lara nan pilu

Tapi kenapa hati ini mengecap hampa
Pikiran melayang tak tentu arah
Gelisah yang masih tak kunjung pupus
Kegalauan meraja, terkadang mendekam

Bila telah mampu bertahan terhadap waktu
Tembang pelangi ‘kan gantikan elegi sukma
Meski  serpihan ketakutan masih bersisa
Kutahu ada kalanya bunga harus bermekaran

Dan masih tentang kamu
Yang kini hadir sebagai pengganti
Kauberikan tangan malaikatmu
‘Tuk menyeka airmata gelisah ini


AKU DAN RINDU ITU
Kamu… adalah rindu itu
Bukan! Bukan hanya rindu
Kamu juga Aurora biru
Berdamping mega warna kelabu

Kamu… masih tetap sama seperti dulu
Senyummu cerah namun sendu
Entah, kesenduan itu telah menyatu
Melekat di balik ketersembunyian kalbu

Kamu… telah mengakhiri ragu
Tinggalkan aku bersama rindumu
Rindu kita dalam serpihan hati meramu
Hingga terkumpul uraian nyata kisahmu

Dan kini, aku dan rinduku….
Terhempas dalam kesaksian baru
Bahwa hidup telah rela meninggalkanmu
Di dalam sekat cinta, mengalah tiada mampu


AKU DALAM KESENDIRIAN

Bilakah hati bermain pada sunyi
Fatamorgana membelai dalam sepi
Keterdiaman ini nyalang berbalut nadir
Mengguguh keindahan, melindapkan takdir

Bisikkanlah perlahan pada sudut kesendirian
Bisikan elegi yang tiada satu pun mampu berkata
Berkata dalam gubahan tembang keabadian
Menelusup malu tentang suatu fana

Nyanyian kesendirian membetahkanku
Engkau tahu mengapa?
Karena nadanya membungkam mendayu
Atas ego yang mendekam lekat dalam sukma

Bukan menyerah, bukan pula tak ingin cinta
Kehampaan telah diukir sedemikian rupa
Namun gita ingatan masa lalu merawan-rawan
Mengantar ke tepi jurang gelap gulita penuh tawan

Kesendirian itu tak akan membunuh
Sang Pemilik Hati menyematkan cinta-Nya
Tersenyumlah pada kesendirian yang rapuh
Dan berkata, “Suatu saat aku pasti bahagia!”


 AKU DAN KAMU DALAM SEDERHANA

Aku menyukaimu dengan sederhana
Sesederhana api membakar arang menjadi bara
Aku menyayangimu dengan sederhana
Sesederhana sinar menelusup pada celah jendela

Aku mencintaimu dengan sederhana
Sesederhana petikan dawai merangkai nada
Dan aku menerimamu dengan sederhana
Sesederhana diam membelai ribuan makna

Suatu saat nanti, bila telah kita temui
Batasan horizon keraguan di dalam diri
Dan sederhana tidak lagi menjadi sesederhana kini
Aku dan kamu ‘kan tetap saling mengingat dalam hati

Karena melalui hati kita menggubah kidung janji
Melewati sudut ruang Andromeda yang sunyi
Kamu dan aku masih tegak berdiri ‘tuk menanti
Sebuah kesederhanaan tiada semu dalam abadi



BERPISAH ATAU TERPISAH?

Hai, kamu yang terindah!
Masihkah bergelut pada petikan senar gitarmu?
Masihkah bernyanyi  seperti dulu?
Atau masihkah kamu bermimpi tentang kita?

Hai, kamu yang tak terlupakan!
Masih kuingat suara petikan senar gitarmu
Masih kuingat suara merdumu
Aku masih bermimpi tentang kita

Bersama hujan kita dendangkan kidung cinta
Hingga air di langit sudah mongering
Pelangi menyembul menarik garis warna
Meresapi terpaan bayu membelai  mendayu

“Aku suka hujan!” bisikmu padaku
“Aku suka pelangi!” bisikku padamu
“Dan Matahari laksana cinta yang menyatukan…,”
“Menyatukan dua sukma  di dalam raga yang terpisah.”

Hujan masih basah, pelangi masih berwarna
Dan Matahari pun masih memancarkan sinar
Namun, apakah kamu masih tetap sama?
Sama  seperti  empat tahun yang lalu?

Ingin kudengar lagi permainan nada-nadamu
Ingin kunikmati lagi merdunya suara nan menenangkan
Ingin kurasakan napasmu dan memandangi matamu
Ingin kuhadirkan kembali kenangan itu di dalam hujan

Tapi nyatanya, kamu tak pernah kembali untukku
Kini aku membenci hujan yang kamu sukai
Setiap tetesannya yang membasahi bumi
Membuat sesak di hati, menahan rindu yang berjela

Kamu ke mana? Kamu di mana?
Sampai pada saat ini tak lagi kutemukan dirimu
Kita berpisah atau terpisah, aku tak pernah tahu
Menunggu pun sudah begitu menyakitkan untukku



BERHARAP HANYA PADA-MU

Dengan-Mu kurasakan bahagia
Aku tak mengenal apa itu duka
Selalu Engkau berikan petunjuk terbaik dalam langkahku
Engkau selalu menjadi harapan dalam doaku

Dengan-Mu kurasakan kerinduan
Aku tak tahu apa itu kehampaan
Selalu Engkau berikan kenyamanan
Di setiap pintu ampunan yang Engkau bukakan

Ya Rabb-ku…
Hanya pada-Mu hati ini bisa terang
Hanya pada-Mu hidup ini bisa tenang
Hanya pada-Mu jiwa ini akan kembali
Hanya pada-Mu aku berserah diri

Ya Allah ya Tuhanku…
Hanya pada-Mu tempatku mengadu
Hanya pada-Mu harapku bertumpu
Hanya pada-Mu hidup dan matiku
Hanya Engkaulah segalanya bagiku

Seringkali aku merasakan malu yang teramat sangat
Atas sikapku yang terkadang mengingkari perintah-Mu
Kekhilafan dan kesalahan yang telah kuperbuat
Selalu mengharap ampunan dan petunjuk-Mu

Aku bersimpuh dan bersujud berurai air mata
Semoga Engkau selalu mengasihi dan mencinta
Memberikan cahaya dan petunjuk pada hamba
Hingga pada akhir hidup ini di dunia



Kasih, Sayang dan Cinta Bunda

Bunda…
Kasihmu tak sebening embun pagi
Karena kasih yang kau berikan padaku melebihi
Beningnya embun di dedaunan sana

Bunda…
Sayangmu tak seindah berlian dan permata
Karena sayang yang kau berikan padaku melebihi
Berlian dan permata yang berkilau bagai mentari

Bunda…
Cintamu tak seluas samudera Pasifik dan Hindia
Karena cinta yang kau berikan padaku melebihi
Samudera yang membentang bagai permadani

Bunda…
Kasih, sayang dan cintaku pada Bunda
Juga tak sebening embun pagi, tak seindah berlian dan permata
Tak seluas samudera Pasifik dan Hindia

Tapi kasih, sayang dan cintaku pada Bunda
Melebihi apa pun, tak sebanding yang ada di dunia ini
Aku selalu berharap semua kebahagiaan menghampiri Bunda
Dan kita dapat selalu bersama dan saling mencintai



KENANGAN UNTUK SAHABAT

Ingatkah kau sahabatku?
Saat pertama kali kita berjumpa
Ingatkah kau sahabatku?
Saat pertama kali kita saling bicara

Apakah kau masih ingat sahabatku?
Tentang hubungan kita yang erat
Apakah kau juga masih ingat sahabatku?
Tentang masalah-masalah kita yang berat

Semua itu kita jalani bersama
Dengan tangisan dan canda tawa
Walau banyak kesalahan yang aku lakukan
Kau tetap sabar dan mau memaafkan

Terima kasih untuk kisah yang kau beri
Terima kasih atas cinta dan kasihmu
Walaupun perpisahan telah terjadi
Namun hati kita tetap bersatu sahabatku


PERPISAHAN

Kita pernah merasakan bosan
Tapi setelah itu akan ada kerinduan
Pernah kita merasakan sakit hati
Namun hanya sesaat, lalu hilang dan pergi

Tak terasa dan tak akan lama lagi
Perpisahan akan menghampiri
Tinggalkan kenangan di sini
Bersama cerita yang telah dijalani

Kesalahan yang terjadi di masa lalu
Jangan dibuat sesal pada masa yang akan datang
Itu hanyalah seberkas kisah yang dulu
Sekarang akan membawa banyak bintang

Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya
Perpisahan memang sudah ada takdirnya
Terimalah dengan kelapangan dada
Sambutlah dengan hati terbuka



YANG SEBENARNYA

Sungguh aku tak mau sebenarnya
Tapi apalah daya inilah kenyataannya
Sebenarnya aku ingin berhenti saja
Tapi aku sudah benar-benar tak bisa

Aku sungguh tahu sebenarnya
Apa yang selama ini ku lakukan percuma
Aku tahu semua ini hanya sia-sia
Tapi aku benar-benar tetap tak bisa

Aku tahu,  tak pantas sebenarnya
Menggenggamnya begitu erat
Karena aku sudah tahu sebenarnya
Tak kan ada yang dapat memberiku obat

Seiring waktu berjalan melangkah
Mencoba bangun dan terjaga
Aku sadar jika hal yang sebenarnya
Telah melumpuhkan dan benar-benar terpisah

Akhirilah ini dengan senyuman
Kenyataan memang tak selamanya sesuai harapan
Tataplah ke depan dan mari laksanakan
Impian-impian baru untuk masa depan


Selamat Tinggal Hari-Hariku

Hari-hari yang bahagia untukku dahulu
Juga bahagia untukku sekarang
Walau hari-hariku terkadang sedikit pilu
Namun rasa syukur selalu akan datang

Aku mengerti hidup ini begitu singkat
Hidupku dan juga hidupmu
Tetap jalani saja walau terasa berat
Semua masalah pasti akan berlalu

Ketika kau sedikit tahu sampai mana batas waktu hidupmu
Pasti kau akan merasakan kesedihan dan rasa berduka
Tapi tahukah kau bahwa itu karunia untukmu
Kesempatan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya

Hari-hari yang mewarnai kehidupanku
Kini hanya tinggal sebuah kenangan
Kuucapkan selamat tinggal hari-hariku
Aku telah pergi bersama senyuman 


AKU DAN PERASAANKU

Perihnya yang kurasa
Saat ku tak bisa memiliki senyummu
Senyum yang selalu melintas dan  dengan indahnya
Namun selalu pergi dan berlalu

Aku bagaikan malam yang tak berbintang
Bagai malam yang tak bercahaya
Langit lebar membentang
Namun ku tak sanggup meneranginya

Jika kau tahu perasaanku
Akankah kau akan mengerti ?
Aku hanya diam dan membisu
Yang selamanya akan tetap begini



Aku yang Akan Pergi

Kusadar diriku penuh kekurangan
Kutahu aq tak bisa seperti yang lain
Hanya impian yang bisa buat ku bertahan
Walau itu rasanya tak mungkin
         
          Berusaha tersenyum dalam tangisku
Pedih mengingat keadaan dan kenyataan hidupku
Ingin rasanya seperti burung yang bisa bebas
Ingin menjadi pohon yang bisa melindungi dari panas

Sulit mencari yang kuat dalam ragaku
Bagai awan hitam yang siap menurunkan hujan
Menjadi air yang membanjiri hatiku
Dan aku akan pergi selamanya  untuk mencari jalan



HANYA ALLAH

Hanya Allah yang selalu menyayangi kita
Tanpa meminta balasan apa-apa
Hanya Allah yang selalu membantu kita
Disaat lagi memderita

Hanya Allah yang patut dicintai
Karena Dia lah yang bisa memberi kebahagian abadi
Hidup dan mati ada di tangan-Nya
Hanya Dialah segalanya bagi kita

Kasih sayang Allah tak akan pernah berhenti
Sekalipun kita pernah mengkhianati
Meski kita terkadang ingkar pada-Nya
Allah akan membukakan selalu pintu taubat-Nya


Akhir ceritaku

Terdiam kumenatapmu
Kau pergi dariku
Memang berat bila cintaku
Tak terbalas dari dirimu

Harapan putuslah sudah
Terpaksa kulepaskan hatimu
Bayangan kisah yang indah
Telah hilang tak menyatu

Menangis ku disini
Biarlah kulepas semua ini
Asalkan kau bahagia disana
Bersama bintangmu selamanya

Langit dan bulan
Kumohon hibur dukaku
Inilah perpisahan
Akhir dari ceritaku

RASA INI UNTUKMU

Kupandang wajahmu lewat mega
Meski rinduku semakin meraja
Kubelai dengan manja
Meski itu hanya khayalan belaka

Berjalan-jalan di hamparan angkasa
Memetik bintang di galaksi tata surya
Merangkai titik-titik sinar yang ku damba
Disanalah kau berkelana dan seolah berkuasa

Kau menembus hatiku yang terdalam
Membelengguku dengan manisnya senyuman
Menyihirku dengan mata yang menawan
Makin mengembangkancint yang kutanam

Kau menjelma jadi sesuatu yang begitu indah
Memecah-mecah radar yang telah terarah
Kaulah sayap-sayap cintaku yang terus tumbuh
Dan senantiasa menerbangkan jiwaku ke dalam dekapan hangat cintaku


AKUNTANSI CINTA

Jika hatimu bisa diakuntansikan
Kutak akan bingung mencari kesalahan
Jika perasaan kita dapat direkonsiliasi
Tentu kita bisa saling mengoreksi diri

Transaksi-transaksi hatimu untukku
Berusaha sudah dijurnal umumkan
Ternyata masih saja salah di pandanganmu
Padahal ledger sudah kupersiapkan

Bagai akun beban dalam laporan laba rugi
Sikapmu mengurangi laba di hatiku
Ingin rasanya keseimbangan neraca kudapati
Namun saat ini belum sanggup menambahi asset hatiku

Sampai kapan kudapat menciptakan goodwill dalam diriku
Sehingga dirimu tertarik membeli saham hatiku
Meski kita diibaratkan perusahaan induk anak yang dipisahkan
Kuyakin kita dapat menyatu karena dikonsolidasikan



Sebenarnya aku tak pantas untuk cemburu
Karena kau bukan siapa-siapa diriku
Karena aku hanya menyukaimu
Mungkin menyayangimu dan mungkin bisa mencintaimu

        Bagiku kau begitu indah
        Maha suci Allah yang telah menciptakanmu
        Bagiku hanya  mengagumimu cukup sudah
        Tak yakin bisa memilikimu

Dia yang memiliki dan dimiliki dirimu
Pasti akan bahagia di dekatmu
Karena aku sangat tahu
Kau adalah terindah bagi dia dan bagi diriku

        Andai aku diberi  kesempatan
        Untuk bisa bersama dan mencintaimu
        Akan kubuat setiap detik menjadi kebahagiaan
        Agar kau tahu betapa berartinya dirimu bagiku


Kutapaki jalan-jalan bebatuan
Detik demi detik aku berusaha untuk kuat
Jalan tandus dan gersang tak ku hiraukan
Tetap tertatih walau rasanya berat

Hatiku…
Bukan kehendakku ingin seperti ini
Masih banyak hal yang ingin kugapai bersamamu hatiku
Tapi, aku takut kita akan segera pergi

Pergi ke tempat yang jauh dan sepi
Menghilangkan penderitaanku selama ini
Aku 'kan bisa tenang dan bahagia
Kembali pada Sang Pencipta untuk istirahat selamanya


Pedih menapaki jalanan tajam

Perih menatap hamparan kabut kelam

Sakit merasakan derita yang tak kunjung hilang

Lelah menanti secercah cahaya yang tak pernah datang


Akankah ini semua akan berakhir

Menunggu sisa-sisa nafas terakhir

Tapi, apakah akan berakhir tanpa ada cahaya

Tanpa ada penyatuan hati bagian hidup 



Ah sudahlah…Biarlah…

Sudah cukup semua ini dirasakanm, aku harus meninggalkan

Menghitamkan hati, menutup jiwa, hingga

Tak terlihat, tak terasa, sampai raga sudah terpendam di jiwa





Cinta....
Kapan akan kutemukan dirimu ?
Cinta….
Dimanakah sekarang keberadaanmu ?

Aku tak bisa melihatmu
Aku tak dapat meraihmu
Begitu sukar memilikimu
Alangkah sulitnya cintaku

Disaat kutemukan dirimu
Tapi kau mslah berpaling dariku
Kau menjauh begitu saja
Pergi berlalu hilang arah



Kau jadi inspirasiku
Kau beri semangat dalam hidupku
Kau bisa buatku melupakan kesedihanku
Kau juga yang bisa buatku melupakan dia yang telah mengecewakanku

Hadirlah selalu dalam langkahku, ingatanku, dan mimpiku
Aku mengagumimu karena kepribadian dan sikapmu
Tetaplah jadi yang spesial bagiku
Walaupun kau tak tahu perasaanku



Kau yang dulu kucinta
Yang dulu kusayang dan kudamba
Kini semua telah sirna
Hilang ditelan kecewa

Tak kusangka kau bisa
Membuat perih mengiris sembilu
Di luar pikiranku kautega
Membuat hancur lebur hatiku

Janji manis yang ternyata palsu
Telah merebut kepercayaan hatiku
Penyesalan atas adanya cintamu
Telah melebihi dalamnya luka nuraniku

Kau yang disana tersenyum bahagia
Telah menghancurkan  indahnya setia
Tak tahukah kau disini kuterluka
Merasakan sakit dan teramat kecewa



Sudah berulang kali tak bisa mencapai hal yang diinginkan
Berulang kali aku menelan kekecewaan
Tanpa sadar saat ini aku menjadi lemah
Hingga hasil yang kudapat begitu parah
               
Aku terpaku dalam termenung
Kemana diriku yang dulu hampir tak pernah kalah
Sekarang kurasakan sedih yang menggunung
Mengikatku dalam hati yang perih dan basah

Malu dengan diriku sekarang yang bodoh
Apa selama ini aku telah melakukan hal yang ceroboh
Atau karena usahaku yang belum cukup
Apa mungkin kerja otakku yang lagi tertutup

Namun, aku bukanlah orang yang mau menyerah
Dalam diriku akan kuperbaiki semua yang salah
Belum terlambat untuk mengubah menjadi kemenangan
Masih ada kesempatan untuk bangkit dari keterpurukan




Aku pernah bermimpi untuk bisa terbang
Aku pernah berangan-angan menginjak awan
Aku pernah berkeinginan untuk menyentuh bintang
Aku pernah berharap dapat berdiri di atas bulan
         
    Tapi semua keinginan itu kulupakan
      Karena dirimu hadir di mimpi dan hari-hariku
      Keinginan-keinginan besarku sudah tergantikan
         Dengan keinginan untuk bisa dekat  denganmu


Mengapa kaumasih memberikan perhatian
Mengapa kaumasih menatapku dengan tatapan rindumu
Kalau memang kauinginkan perpisahan
Mengapa kautetap melakukan itu semua padaku

Aku bingung, sedih, benci, juga bahagia
Aku bagai daun yang diterbangkan angin menerpa
Tak  bisa percaya dan tak tahu apa yang harus dilakukan
Mungkin cukup menunggu waktu yang dapat membuktikan



PILIHAN HATI

Datang dan pergi silih berganti
Di pusaran mimpi aku menunggu pagi
Mencari cinta di atas segala cinta
Tapi sampai ku hampir putus asa, aku tak mendapat apa-apa

Hati ini tak berencana membuatmu penting dalam hatiku
Karena kau datang tanpa permisi mengetuk dan memasuki relung hatiku
Rasa ini datang sendiri tanpa mampuku bendung
indah dan elok bagai lembayung

Aku tak akan meminta hari kemarin sebagai kenangan
Dan aku tak berani meminta esok dengan sebuah harapan
Aku hanya cukup untuk hari ini
Karena ku tahu bahwa kamulah yang benar-benar kupilih sebagai pilihan hati




Kini lain kurasa
Saat ditinggal semua
Tiada pernah tahu arah
Terasa sakit teramat parah

Aku benci keadaan ini
Tapi begitu bodoh kalau harus menyalahkannnya
Hati yag teriris mati
Tak 'kan ada obat penawarnya

Aku pasrah menemukan jalan terakhir
Berpapasan dengan kelamnya kehidupan
Berharap semua cepat berakhir
Namun apalah daya sudah tak bisa

Aku yang ditinggalkan
Aku yang terlupakan
Aku yang  tiada berarti ‘tuk semua
Hanya ingin merasa bahagia cukup satu kali saja

Tak ada habisnya tentang dia
Selalu saja tentang dia
Baru saja harapanku berkembang
Kini harapan itu telah sengaja menghilang

Karena dia telah kembali pada cintanya
Buat dia bahagia seperti dulu
Buat dia bisa tersenyum bahagia dengan cintanya
Yang tak bisa kuberi dengan cintaku

Sekali lagi, aku relakan dia
Aku relakan demi kebahagiannya
Aku sudah cukup bahagia
Meski hanya dapat  mencintainya


TAK BISA LAGI



Sikapmu yang acuh tanpa cinta

Seolah menyimpan kesal yang menggunung

Lelah hatiku mencari pusara cinta

Menangis saat kutahu semua tak berujung



Biru hamparan di atas kaki pelangi
Lembayung senja datang membawa resah
Ingin ku hentikan dan tak pernah melangkah lagi
Pada hati yang tak lagi mencinta

Sebenarnya ingin aku melindungi setiap hari
Sebenarnya ingin aku peduli lebih dari ini
Dan sebenarnya ingin aku tetap mencintai
Namun kini aku sudah lelah dan aku sudah tak bisa lagi









Merasakan cinta sangatlah indah
Namun terasa sakit kala cinta tak bisa dimiliki
Terasa hampa jika tak berani jujur
Terasa berat bila dalam kerapuhan

Bukan aku tak ingin cinta
Tapi aku takut tersakiti
Aku takut merasa hampa dan rapuh
Hingga cinta akan membawaku dalam kesedihan

Karena semua pernah ku rasakan
Cinta senantiasa buatku gelisah
Tanpa keberanian mengungkapkan
Cintaku terpendam untuk selamanya

Ingin suatu saat bila tiba waktunya
Cinta dapat menyapa hatiku
Cinta dapat membuatku bahagia
Tanpa harus merasakan sakit seperti dulu



Sahabatku…. Kau bagai pelangi yang berwarna-warni
Tak berhenti untuk selalu mewarnai hari-hari
Meski  sebenarnya warnamu hanya satu
Putih... seputih hatimu  sahabatku
                        
          Sahabatku…. Kau bagai bintang malam
          Selalu menghiasi hatiku bila sedang kelam
          Selalu bersinar dan mengajak menari melupakan sedihku
          Selalu bercanda dan bernyanyi  bersama  saat  dukanya diriku

Sahabatku….Kebahagiaanmu adalah bahagiaku
Begitu pun dengan kesedihanmu adalah sedihku
Sahabatku…. Semoga kita bersama selamanya
Walau kita tahu suatu saat pasti kita akan berpisah



Jauh disana pikiranku melayang bingung
Sempat berhenti dan sejenak termenung
Adakah balasan dari rasa cinta ini
Darimu seseorang yang selalu kunanti

Kulebarkan kepakan sayap rinduku
Padamu yang jauh berada disana
Samudera membentang dan lautan biru
Menghiasi indahnya hal yang kurasa

Singgasana cinta kutabur dengan permata
Ku persiapkan hanya untukmu sang cinta
Namun hati kecilku bertanya-tanya
Apakah rasa tulus ini akan berakhir bahagia


EMBUN DAN PELANGI UNTUKMU

Ibarat pelangi yang muncul setelah hujan
Menimbulkan suatu bentuk keindahan
Ibarat embun yang muncul di pagi hari
Dapat menyejukkan mata dan hati

Kuberjalan dan terus menelusuri
Kadang berlari tak ingin berhenti
Walau kini sudah kurasakan letih
Meski kakiku sudah terluka perih

Aku harus bisa melihat pelangi dan menyentuhnya
Aku harus bisa merasakan embun dan pulang membawanya
Embun dan pelangi yang kudamba
Aku persembahkan  untukmu yang kucinta


Hanya dapat memiliki dalam mimpi
Hanya bisa bercanda dalam imajinasi
Hanya sendiri hati yang merasa
Namun aku bahagia

Kau yang jauh dari jangkauanku
Apakah aku mampu meraihmu?
Kau yang sekarang sudah dimiliki
Apakah aku sanggup untuk selalu begini?

Seandainya saja sekarang kau sendiri
Belum memiliki dan dimiliki dia
Mungkin hanya  tak sekedar mengagumi
Aku akan berusaha untuk bisa . . .

Karena . . ..
Bayangmu tak pernah bosan menari di benakku
Tentang dirimu selalu hinggap di pikiranku
Namun, aku tak berani untuk melakukan lebih dari ini


Cukup bagiku hanya cinta dalam hati

Comments

Popular posts from this blog

LOMBA MENULIS PUISI “JIKA INI ULANG TAHUN TERAKHIRKU”